DARI NGOBROL BARENG HINGGA BEDAH BUKU

26 Juni 2008 - 07:32   (Diposting oleh: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.)

Oleh Muhzen Den

Ngobrol Bareng Gola Gong
Minggu (18/05) pagi pukul 10.00 WIB, sekitar dua ratus tiga puluh orang peserta memadati halaman Rumah Dunia. Mereka semua sengaja datang ke Rumah Dunia untuk tidak melewatkan acara Ngobrol Bareng Gola Gong, seorang novelis terkemuka di Banten yang akhir-akhir ini jarang muncul dikhalayak karena sakit yang menderanya membuatnya harus istirahat beberapa bulan lamanya Rumah Sakit Holistik, Purwakarta.

Gola Gong lebih kurus dan berambut pendek menyapa pengunjung bukan dengan tetap semangat. Ia terus memotivasi pengunjung agar tetap menulis. Gong menuturkan, ia tetap mengusahakan diri untuk tetap menulis. Dan hari itu adalah launching karya-karya terbaru yang ditulis saat ia terbaring sakit. Tidak tanggung-tanggung Gong yang juga hanya berlengan satu ini melahirkan enam buku fiksi dan nonfiksi. Melihat hal itu, siapa yang tidak iri dan termotivasi untuk melebihinya.

Acara yang dipandu Piter Tamba, lay outer Tabloid Kaibon dan sutradara film pendek padi Memerah ini nampak meriah. Pada session acara tersebut sesekali Piter memberikan kesempatan pad peserta yang hadir untuk membacakan puisi yang sudah disediakan oleh panitia. Di acara ngobrol bareng itu, Gola Gong selain meluncurkan buku karya terbarunya juga meluncurkan bisnis kecil-kecilan berupa kaos bermerek Gola Gong dan Pin. “Alhamdulillah, saya sangat berterima kasih sekali karena sudah diberi kesehatan dan bisa menyapa kembali rekan-rekan semua. Yang mempunyai minat dan motivasi terhadap dunia buku. Semoga dengan ini saya bisa lekas sembuh,” ucapnya di sela-sela acara berlangsung.

Agenda Bedah Buku
Setelah acara Ngobrol Bareng Gola Gong selesai dilaksanakan, relawan atau panitia kembali mengevaluasi acara dan susuna acara lagi. Tepatnya Sabtu (24/05) pukul. 13. 30 WIB, Rumah Dunia siap menggelar bedah buku. Kali ini buku yang dibedah berjudul ROMUSA: Sejarah Yang Terlupakan karya Hendri F. Isnaeni dan Apid. ROMUSA akan dibedah oleh dua pembicara berkompeten seperti, Boni Triyana seorang sejarahwan dan wartawan Jurnal Nasional, dan Putu Kusuma WIjaya seorang sutradara film. Mereka berdua akan mengupas habis karya Hendri F. Isnaeni dan Apid dengan kacamata pengetahuan mereka. Selain itu, acara bedah buku tersebut dimoderatori oleh Firman Venayaksa selaku Presiden Rumah Dunia dan Dosen Untirta.

Tak hanya itu saja. Bukan hanya ROMUSA yang di bedah. Rumah Dunia sendiri tak mau kalah untuk meluncurkan buku dan sekaligus dibedah. Tepatnya Sabtu (31/05) pukul. 13.30 WIB. Karya terbaru dari para penulis Rumah Dunia yang terkumpul dalam buku kumcer berjudul Cinta Lelaki dan Peluru yang diterbitkan oleh penerbit Tiga Serangkai siap di bedah. Sebagai pembedah yang akan mengupas habis karya para penulis Rumah Dunia ini adalah sastrawan nasional Kurnia Effendi, dan Sulaiman Djaya seorang sastrawan asal Banten. Bagi teman-teman yang tertarik untuk mengikuti diskusi ini. Silakan datang saja ke Rumah Dunia. Kami dari panitia sekaligus pengelola Rumah Dunia mengundang anda sekalian untuk ikut dan duduk bersama kami menikmati menu intelektual ini dengan arif. Di sini aku bahagia!

* * * *
Penulis adalah mahasiswa Diksatrasia dan relawan Rumah Dunia.

Kirim ke teman Versi cetak Beri nilai Komentar (View: 471 | Refer: 0 | Print: 110 | Rate: 7.50 / 4 votes | Comm

[255] SALAM TERAKHIR

04 Januari 2008 - 16:43   (Diposting oleh: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.)

Oleh Aji Setiakarya

Janganlah engkau melupakan dimana asalmu. Kalimat ini sengaja disimpan di awal sebagai catatan untuk mengingatkan kami bahwa setiap langkah manusia seharusnya ingat di mana kita berasal dan lahir, di mana kita menginjak dan ke mana kita akan kembali.

***

Tiga Maret 2008 nanti Rumah Dunia (RD) secara resmi berusia genap enam tahun. Dalam ukuran hidup manusia, enam tahun adalah waktu yang masih kanak-kanak yang membutuhkan bimbingan, arahan, juga nasehat. Meskipun begitu RD bersyukur menjadi anak-anak yang diperhitungkan, tumbuh menjadi anak yang sehat. Masyarakat banyak yang simpati dengan keberadaannya. Di sekolah-sekolah di Banten sering diperbincangkan, dan menjadi obrolan. Beberapa di antara mereka kemudian berkunjung ke Rumah Dunia. Di tingkat nasional, RD menjadi komunitas yang tidak pernah absen jika ada kegiatan-kegiatan literasi. RD menjadi inspirasi bagi orang-orang yang peduli dengan pendidikan dan literasi. Banyak wartawan meliput baik televisi maupun koran. Di tengah keterbatasan, RD tetap hidup. Itulah pendapat mereka yang pernah datang ke RD baik yang berasal dari Banten maupun teman-teman di luar Banten. Kami memang merasakan hal itu sampai terus eksis di usianya yang ke-6 ini. Tapi di balik itu kami tidak hendak lupa bahwa banyak orang yang telah membantu kami. Salah satunya adalah koran lokal Radar Banten (RB) yang telah memberikan kolom opini untuk melaporkan kegiatan-kegiatan kami selama hampir enam tahun.

***

Keberadaan salam RD dipicu dengan semangat yang sama untuk menumbuhkan minat literasi di antara teman-teman RD dan RB. Radar Banten, waktu itu masih Harian Banten bekerjasama dengan Yayasan Latifa mengadakan kegiatan yang inovatif dalam dunia literasi bernama Tebar Sejuta Buku. Kegiatan itu pertama kali digelar di Banten, tapi para pejabat saat itu sedikit yang peduli, Rys Revolta pernah menuliskannya bersambung di Harian Banten (Edisi 16, 17, dan 18 Oktober 2002). Sungguh, ternyata angka ‘sejuta’ yang diterakan pada program itu, sekadar angan-angan belaka. Sumbangan buku/majalah yang terkumpul kurang dari 3 ribu eksemplar, atau tepatnya 2.770 eksemplar. Bahkan angka itu tercapai berkat tawaran kerjasama dengan Yayasan Latifa Serang, yang membantu menampung dan menyebarkannya ke sejumlah kantong-kantong pustaka di beberapa wilayah Banten. Ironisnya lagi, hanya tercatat 2-3 orang pejabat/ tokoh Banten yang sempat memberi sumbangan. Itu pun setelah ‘ditodong’ dengan berkali-kali.

Dari sanalah, tepatnya di rumah Toto St Radik, Rys Revolta, Gola Gong dan Abdul Malik (Wartawan Harian Banten) rembugan untuk mencari ide untuk terus konsisten mengembangkan minat. Gola Gong, Toto ST Radik bersedia menulis tanpa honor, Abdul Malik dan Rys Revolta yang menyediakan tempatnya di Harian Banten. Rys Revolta atau biasa yang kami panggil Pak Uban (karena almarhum beruban) pernah mengulas sebuah email Gola Gong di salah satu tulisannya.

Coba kita bayangkan arah mata angin atau angka-angka di jarum jam. Di setiap angka itu, kita buat sanggar-sanggar kesenian dan perpustakaan. Percayalah, itu merupakan terapi yang baik bagi hati nurani kta (anak-anak kita kelak). Ajarkan pada anak-anak atau adik-adik kita tentang membaca dan mengkaji. Berikan kegembiraan pada mereka lewat kesenian; sastra, seni lukis, drama.... Bayangkan, jika Banten kita kepung seperti itu. Insya Allah, 10 atau 20 tahun ke depan, kualitas generasi muda Banten akan maju satu-dua langkah dari sekarang. Dan kita yang sudah tua ketika itu, akan bahagia melihat Banten kembali jaya seperti pada abad 15 atau 16. Nggak percaya? Mari kita lakukan sama-sama! ( Salah satu e-mail Gola Gong kepada Rys Revolta).

Salam Rumah Dunia yang terbit sekali dalam sepekan itu telah memiliki pembaca setia. Selama hampir enam tahun ini mereka selalu mengikutinya. Jika salam RD alfa mereka sering menelpon ke RD. Para pembaca itu memberikan apresiasi dan tidak sedikit di antara mereka yang datang menjadi relawan bahkan donatur. Ada juga yang ikut menjadi anggota kelas menulis. Dan di antara kelas menulis itu sekarang telah menjadi wartawan di Radar Banten, seperti Qizink La Aziva, Hilal Hamdi dan Aji Setiakarya. Kami mengucapkan terimakasih kepada pembaca yang telah menjadi teman kami. Yang memberi masukan dan kritikan jika RD melakukan kesalahan. Terimakasih kepada RB yang telah memfasilitasi kami, kerjasama yang sangat menyenangkan!

*** Selain kepada para pembaca Radar Banten yang telah menjadi pembaca setia Rumah Dunia, izinkanlah kami mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang sejak awal konsisten membantu keberadaan RD selama ini. Mas Gola Gong, Toto St Radik, Tias Tatanka, Rys Revolta (Alm), sebagai orang yang membidani lahirnya Rumah Dunia. Suhud Media Promo yang tengah menjadi partner sejak awal, dengan membebaskan setiap cetakan-cetakan RD, beberapa pejabat Dinas Pendidikan Banten yang menjadi donatur tetap, Pak Ajak Muslim, Pak Zenal dll. Perpustakaan Daerah Banten, Ibu Sudiyati dan Yaya Suhendar. Anak-anak Forum Lingkar Pena Serang, Teman-teman Forum Kesenian Banten, dan para seniman Banten. Media Partner, Top FM Cilegon, Aldi Dkk. Banten Raya Post M.W Fauzi dkk, Indo Pos Gin Ginanjar dkk, Yoyo Mulyana, H Embay Mulya Syarief, Djoko Munandar dan istri, Teman-teman Mas Gong di Jakarta. Ini adalah Salam RD terakhir di Radar Banten. Kita ingin memberikan ruang untuk komunitas lain. Selanjutknya untuk pembaca setia, bisa membacanya di Banten Raya Post atau di www.rumahdunia.net. Tetap semangat!

Atas Nama Seluruh Relawan Rumah Dunia

[242] MENJELANG NANDUR LUMBUNG BANTEN

05 Oktober 2007 - 23:23   (Diposting oleh: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.)

Barang siapa tebar tanam, maka bersiaplah tuai panen. Tuhan telah bersabda, tak ada yang sia-sia di dunia ini. Segala sesuatu ada manfaatnya. Selalu ada balasan. Terlepas itu baik atau buruk. Tinggal kita memilih dan memelihara. Terus dan terus hingga waktunya tiba. Mari, kita tuai pilihan kita dengan senyum!

MUTIARA BUNDA
Di tengah kesibukan menyiapkan agenda besar yang berdekatan; Kado Lebaran pada Minggu (7/10) dan nandur Lumbung Banten pada Senin (8/10), pada Selasa (2/10), Rumah Dunia dijejali sekitar 80 siswa-siswi SD Mutiara Bunda, Cilegon, dan anak-anak belia Rumah Dunia. Berbagai kegiatan digelar selama seharian: Wisata Belajar, Games, Dongeng, dan Buka Bersama. Untuk menambah keakraban, dewan guru menjembatani dengan membagi beberapa kelompok. Agenda dilanjutkan dengan wisata belajar. Kali ini Batik Banten yang berada tak jauh dari Rumah Dunia, menjadi pilihan. Buku dan pena disandang. Beberapa pertanyaan dipersiapkan. “Hal ini bertujuan menumbuhkan sikap kritis mereka kelak,” ujar Wahyu, salah satu dewan guru.

Menjelang maghrib berbagai kegiatan selesai. Para siswa menyerahkan bingkisan tas sekolah untuk anak Rumah Dunia. “Terimakasih kepada Rumah Dunia, khususnya peda kakak relawan yang sudah dibuat repot sama anak-anak. Kami hanya mengucapkan banyak terimakasih yang sebanyak-banyaknya,” ujar salah satu dewan guru dalam sambutan penutup acara.

Sebelum pulang, Mutiara Bunda menyerahkan sekitar 25 bingkisan berisi paket sembako dan makanan ringan kepada pengurus Rumah Dunia. “Itulah buah yang kalian tanam di sini. Sadar atau tidak sadar, kalian sebenarnya telah mengabdi kepada masyarakat sekitar. Malam ini setidaknya kita bisa membahagiakan beberapa keluarga tak mampu dengan sembako ini,” papar Gola Gong dalam rapat kecil malam kepada relawan.

KADO LEBARAN
Sudah menjadi adat kebiasaan Rumah Dunia, menjelang lebaran selalu saja dirayakan dengan berbagai lomba. Acara ini kami sebut dengan Kado Lebaran. Untuk tahun ini Kado Lebaran Rumah Dunia adalah yang ke-empat kalinya.

Berbagai acara sedang digodok oleh Muhzen Den, sebagai pimpinan proyek (pimpro). Kado lebaran akan dilaksanakan pada Minggu (7/10). Berbagi acara sudah digagas. Selain akan ada lomba-lomba, acara juga akan diisi dengan tausiyah dari Muhammad Idam, da’i cilik asal Ciloang, yang menjuarai lomba pildacil tingkat Provinsi. Acara juga akan diramaikan oleh pentas kasidah Marawis dari SMP Daarul Falah, Ciloang. Beberapa donatur alhamdulillah sudah bersedia membantu: Rumah Makan Soekaria bersedia memberi santunan sebesar Rp. 100.000,- berikut paket konsumsi berupa 50 nasi kotak, juga Rumah Makan Ayam Bakar Ciceri dan Bella Resto dan Café yang masing-masing bersedia menyumbang 50 nasi kotak. “Acara ini sebenarnya adalah sejenis santunan. Hadiahnya juga lebih kepada berbentuk uang. Yah, lumayan buat lebaran anak-anak,” ungkap Muhzen Den selaku ketua pelaksana. Beberapa nama juga sudah mentransfer; mulai dari Rp. 50.000, Rp. 100.000,-, bahkan ada seorang hamba yang mentrasfer sebesar Rp. 1.500.000,- Alhamdulillah, kas Rumah Dunia terisi lagi. Kami sedang butuh uang untuk nandur Lumbung Banten, Senin, 8 Oktober 2007 nanti.

LUMBUNG BANTEN

Sekitar 8 Oktober 1525, Maulana Hasanudin bertandang ke Banten Girang. Hasanudin mengajak Pucuk Umun masuk Islam. Tapi Pucuk Umun menolak. Lalu mereka bertaruh ayam; siapa yang kalah harus menyerah. Pucuk Umun kalah dan mengasingkan diri ke tanah Kanekes, Baduy sekarang. Sedangkan Hasanudin secara resmi mengumumkan dirinya sebagai penguasa baru di tatar Banten dan membangun ibukota Kesultanan Banten di Banten Lama, 10 KM utara Serang.

Atas dasar fakta sejarah itu, maka bertepatan pada Senin (8/10) pukul 15.30 WIB Rumah Dunia akan menggelar acara nandur alias musim tanam di Lumbung Banten . Itu sebagai upaya membangun kembali peradaban Banten lewat jurnalistik, sastra, film, rupa, dan teater. Pada acara itu, kita semua, warga Banten akan nandur (menanam) di Lumbung Banten. Beberapa pembicara sudah kami hubungi: Prof.DR. Yoyo Mulyana, tokoh akedemis Banten, Muh. Widodo, Pemred Radar Banten, dan Firman Venayaksa. Nandur pertama adalah dengan memaksimalkan kemampuan para penulis lokal (local genuine). Rencananya sekitar 10 buku diluncurkan. Penerbitnya “Lumbung Banten”. Masih sederhana. Kesepuluh buku itu adalah: Konvensi dan Konfeksi (Gola Gong), Keranda Merah Putih (Gola Gong), Bicaralah Tanah (Nandang Aradea), Surosowan Burak (Toto ST Radik), Coretan Politik (Aji Setiakarya), Jelangkung (Langlang Randhawa), Gema Ramadhan (Tim wartawan Radar Banten), Ode Kampung 1 (Tim Rumah Dunia), Ode Kampung 2 (Tim Rumah Dunia), dan Bunga Rampai Essay (Firman Venayaksa). Juga film-film karya kelas film Rumah Dunia dan anak-anak Gong Media Cakrawala: Jejak Multatulli, Padi Memerah, Festival Film Banten, Piknik ke Monas, belok Kiri [dilarang] Langsung.

“Saya ikut me-lay out dengan format MS Word; ini nostalgia seperti sedang megngarap jurnal Lingkaran (1996), Meridian (2000), dan tabloid Banten Pos (1993)” Kenang Gola Gong. Ini adalah gerakan provokasi. Kata Hasan Alaydrus, tokoh masyarakat Banten, “Action first, talk after!” Ya, kami bekerja dulu, bicara kemudian. Kami mencontohkan dulu, lalu ramai-ramai kita menandur bersama. Sekarang saja, sumbangan “benda pusaka” Banten sudah memenuhi Lumbung Banten. Seminggu lalu, Humas Pemprov Banten menyumbang klipingan berita-berita kinerja Pemprov Banten di koran lokal dan nasional, serta buku-buku tentang Banten terbitan humas Banten. Juga Penerbit Suhud Media Promo dan Abdul Malik, litbang Radar Banten, menyumbang karya-karyanya.

Jika selama ini benda pusaka Banten lebih kental dengan golok, pelet, jawara, dan debus, maka kali ini adalah buku-buku sastra, naskah teater, lukisan, dan film karya wong Banten . Kelak 50 tahun ke depan anak-cuku kami di Banten bisa memanennya jika hendak melakukan kegiatan ilmu pengetahuan. Akhirnya, semoga acara Launching aitu dimudahkan oleh allah SWT. Mohon doa restu dari semua. Hidup ilmu pengetahuan! (penulis Langlang Randhawa, mahasiswa IAIN Banten, Sekertaris Rumah Dunia) *) Foto depan: Lumbung Banten bisa memotivasi penulis lokal. Seperti buku "Bangga Menjadi orang Bnten" karya Abdul Malik yang diterbitkan oleh Suhud Media promo membuktikan itu.
*) Foto dalam' para pelajar antusias ingin menjadi penulis. ayo, kita nandur di Lumbung Bnten!

“Sembako“ Buku (Gerakan Sedekah Buku untuk Indonesia Membaca)

Hilman Sutedja

Dulu ketika di kampung halaman, saya dengan teman-teman yang masih ingusan dipercaya oleh Pak Haji Imron (tokoh masyarakat kampung) untuk membagikan sembako beras bagi keluarga kurang mampu dan anak yatim. Dilakukan setiap akan menjelang lebaran. Kami begitu antusias melaksanakannya, apalagi ketika diiming-imingi uang seribu rupiah. Kami juga makin bersemangat ketika Pak Haji memberi wejangan bahwa kami akan mendapat pahala karena sudah berbuat amalan mulia.

Read more ...

Copyright © 2019 Rumah Dunia. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU General Public License.