[27 Nov 2007] GOENAWAN MOHAMAD DI RUMAH DUNIA

22 November 2007 - 02:27   (Diposting oleh: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.)

Setelah sukses dengan jumpa pengarang bersama Taufik Ismail, yang dihadiri ratusan peserta, kini Rumah Dunia menggelar jumpa pengarang maestro berikutnya, yaitu Goebawan Mohamad. "Maaf, saya bisanya 27 Nov," GM mengirim SMS. Liflet yang sudah disebar yang mengbaarkan GM akan berbagi pengalman tentang proses kreatif pada 24 Nov mesti diralat. Untung Suhud Mediapromo langsung mencetak lagi 1 rim.

Saat jumpa pengarang bersama TI (17 Nov), para peserta dari mulai pelajar SMP, SMA, mahasiswa, hingga guru mersa terkesima dengan pembacaan puisi TI. Bahkan saat berbagi pengalaman semasa proses kreatifnya, peserta diskusi terhanyut. "Nggak rugi dateng ke Rumah Dunia," kata peserta dari STIKPI Rangkasbitung.

TI sendiri mendapatkan bingkisan berharga lainnya. Yaitu 2 anak kecil; Epir dan Ros, mmebacakan sajak-sajaknya; Malu Aku jadi Orang Indonesia". Dan Indra Kesuma (tutor menggabar RD) menghadiahi lukisan dirinya. "Saya terharu dengan kegiatan hari ini. Semoga kegiatan RD slanjutnya lancar," begitu kesan TI lewat SMS tentang acara jumpa pengarang yang menghadirkan dirinya.

Kita tunggu GM 27 Nov nanti ya. Kalau TI ke puisi, GM diharpkan bisa membawa pencerahan pada dunia jurnalistik di Banten.

(235) MEMBANGUN MIMPI (LAGI)

23 Agustus 2007 - 03:08   (Diposting oleh: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.)

Oleh Firman Venayaksa*)

News dot com, sebuah acara parodi politik di sebuah televisi suasta ternyata sanggup merebut perhatian pemirsa, termasuk tokoh-tokoh bangsa yang diparodikannya. Tag line “Jangan BBM” (Baru Bisa Mimpi) memang cukup menarik untuk ditelisik lebih mendalam. Kita diingatkan oleh tayangan ini untuk tak sekadar bermimpi, tetapi kita juga harus berupaya agar mimpi-mimpi itu mewujud, kendati kita semua mahfum bahwa segala sesuatu berawal dari mimpi. Mimpi dalam pendekatan psikoanalisis yang dikembangkan oleh Sigmund Freud masuk ke dalam ranah alam tak sadar (unconsious mind). Meminjam teori “gunung es” bahwa yang terlihat di permukaan hanyalah secuil saja (consious mind), sementara ada sebuah energi dahsyat yang tak terlihat (unconsious mind) dan harus diperjuangkan kehadirannya.

Nurani Dunia
Di dalam acara tersebut, kita juga diperkenalkan bagaimana mimpi itu diwujudkan. Bekerjasama dengan Nurani Dunia, sebuah LSM yang dimotori oleh Dr. Imam Prasojo, mereka bisa menggalang dana dan berhasil merekonstruksi sekolah-sekolah yang roboh. Kekuatan mereka dalam membangun mimpi sangat patut ditiru, sebagai upaya untuk mencerdaskan regenerasi berikutnya, terutama di bidang pendidikan. Rupanya Nurani Dunia memang sering bekerjasama dengan komunitas/ institusi lain yang segagasan.

Dalam posisi ini, Rumah Dunia sebagai lembaga yang concern dengan dunia literasi dibidiknya juga untuk bekerjasama. Jika tak ada aral melintang, pada bulan September, Rumah Dunia yang dijembatani oleh Nurani Dunia akan segera mendapatkan sebuah gerobak baca (mobil bajaj) dari Pro XL. Sementara untuk mengisi gerobak tersebut, Shadik dan Muhzen mendatangi kantor Nurani Dunia pada hari Rabu (22/08) untuk membeli buku-buku di Jakarta dengan budget 5 juta rupiah yang telah didanai Pro XL setelah sebelumnya para relawan mendiskusikan dan mencatat buku-buku apa saja yang hendak dibeli. Tias Tatanka dengan semangat menuliskan di secarik kertas, Muhzen melihat-lihat katalog, Shadik yang sedang tergila-gila dengan Harry Potter langsung mengajukan koleksi buku tersebut. Sebagai penasehat Rumah Dunia, Gola Gong tak ketinggalan memberikan masukan. “Gerobak baca tersebut harus kita manfaatkan untuk mendatangi tempat-tempat terpelosok di daerah Banten dan membuat acara dadakan seperti workshop kesenian, ekspresi dan diskusi, selain bidikan yang paling utama yaitu menyebarkan virus literasi” ungkapnya dengan penuh antusias.

Sebagaimana kita ketahui bahwa Gola Gong sebagai salah satu pendiri Rumah Dunia tak menciptakan learning center ini dengan waktu yang sebentar. Dimulai dari mimpi untuk menggagas semacam gelanggang remaja, Gola Gong dan kawan-kawan sezamannya terus berupaya ke arah itu. Alhasil, kini Rumah Dunia telah menginjak tahun keenam dan lambat laun mulai menghiasi Banten dengan segala macam kegiatan. Tentu saja kehadiran Rumah Dunia tak bisa mengalir begitu saja tanpa bantuan dari semua elemen terkait yang selalu menyokong kegiatan kami. Untuk itu kami selalu mengucap termakasih yang tak terhingga, terutama Radar Banten yang menyediakan tempat ini dan Banten Raya Post, selamat ulang tahun untuk yang pertama.

Membangun Mimpi (lagi)
Keranda Merah Putih yang dibuka secara resmi oleh Gubernur Banten tinggal menyisakan dua kegiatan lagi yaitu diskusi Seni Rupa pada hari Sabtu (25/8/2007) pukul 14.00 dengan pembicara Tubagus Andre (Galeri Nasional), Si Uzi (Karikaturis Banten Raya Pos/ Radar Banten), Gebar Sasmita (pelukis) dimoderatori oleh Indra Kesuma yang dilanjutkan pada malam harinya dengan Pentas Seni Kampung Ciloang. Kegiatan terakhir adalah Workshop Seni Lukis untuk Guru SD/TK yang diselenggarakan pada keesokan harinya, pukul 08.00 yang dilanjutkan dengan pembagian hadiah sekaligus penutupan.

Di dalam kegiatan ini, ada satu hal yang seharusnya menjadi momentum penting yaitu diskusi antara seniman dengan Gubernur Banten mengenai pembangunan Taman Budaya/ Gedung Kesenian dan Perpustakaan Banten. Sayang, diskusi tersebut tak banyak menghasilkan sesuatu, selain sebuah janji dari lontaran Gubernur bahwa pembangunan akan dilaksanakan paling lambat tahun 2012. Kami sadari bahwa dalam pandangan para pemegang kebijakan, membangun dua hal di atas bukanlah sesuatu yang penting jika dibandingkan dengan pembangunan pelabuhan atau jembatan yang prestisius, padahal kita tahu dengan seksama dan bisa bercermin melihat gaya Orde Baru bahwa image identitas kultural tidak terbangun dari persoalan itu. Para seniman pun meyakini bahwa mimpi itu harus terwujud, sementara birokrat pemerintahan lebih mengimani kutipan dari novel Sang Alkemis, “Aku takut jika impianku terwujud maka aku tak punya lagi alasan untuk hidup” Dari pada kami menunggu Godot, lebih baik kami berbuat. Kini Rumah Dunia kembali bermimpi yaitu membangun Gedung Kesenian dengan keringat kebersamaan. Kami sedang menggodok mengenai sistem pengumpulan dana ini. Dalam jangka waktu lima tahun ke depan, kita lihat, siapa yang lebih dahulu membuat Gedung Kesenian! Ayo, jangan Cuma BBM!

*) Presiden Rumah Dunia dan Dosen Untirta.

 

(232] HAPPY ON CHILDREN DAY AND READING DOG-CART

03 Agustus 2007 - 03:21   (Diposting oleh: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.)

By Langlang Randhawa

When various colors are moulded by able hands, a fascinated drawing is born. When tones are composed beautifully, beautiful charming songs are filling the air. When words are arranged full-heartedly, significant writings are born into being. A work of arts, in whatever forms, when they are faithfully following the branches of process, will be meaningful. The process will result in: the buds of painters, musicians, writers who will emerge from the Earth. The buds are our children. Embryos of all colors and varieties of songs of Life.

APEK
Although the celebration (of Children Day - CD) was not exactly celebrated on the CD 2007 (July, 27), as we always do, the committee was still enthusiastic to conduct the celebration. Tuesday (July,24) a number of preparation were done. Ideas were blossoming from our heads, although the Village Ode 2 had exhausted us. Yes, we were still tired but the show (of CD) must go on. Following our success in holding ‘Fascinated Holiday” at the beginning of July 2007, committee to host were still from around the RD complex: Ciloang and Kubil. First was Muhzen Den, a volunteer from Ciloang ho has been with RD from its first year. He had been appointed Organizing Chief of the “the 6th Children Party” of the “Children day” – 6th CD.

Deden, is his nickname, and he again gathered the youth of of Ciloang and Kubil (Cibil) to assist him. The team consists of -0 among others - Royadi was the secretary to 6th CD, Alwi as a leaflet man whose responsibility is to deliver the leaflets as wide area he as could possibly inform the 6CP, Goni lobbied the clown costume owner. Khusnul Aeni prepared for colored ribbons, while Alimin was made busy to blow balloons. Fatiroh and Sri packaged consumption for children and committee. What did Tuti do? She registered the participants and rechecked the registered ones. Rosdina and Saudi were buussssssy. Yes, they went here and there, and there and here, assisted here, helped there, support others’ tasks. Awhile teens of children around the village were busy cleaning and cleansing bamboos to make the bamboos free of hinis (the most outer skin of bamboo which is hurting to people’s skin). So the young climbers would not get hurt. Tias Tatanka again asked the committee to contact Warung Makan Emak Haji in Ciceri (Meals Warong) to become a sponsor. And, praise be to Our Lord, by God willing, 50 boxes of rice (with side dish of course) could be served for the committee’s lunch. Firman Venayaksa, our Presiden of RD, encouraged us to wark hard and made the program executed. He stated, “… five years ago you were all the participants of the Children day, you know that, your stinky silly aroma from your bodies were airing the yard and the program…stinging the committees noses. Now you are all the members of the committee and you are so good smelling…”. Firman smiled happily. And the audience burst into laughter.

THE 6TH CHILDREN PARTY

The VO 2 is for poets, novelists, musicians while 6thCD is for children. RD called the celebration as “6th Children Party”. In this “6th Children Party”, the children involved in a number of races, games, exhibition and competition: poetry reading, creative writing, drawing, poetry reading, acting, field survival or haling rintang, exploding baloon, ell going in a bottle, sweets going in white jug, and panjat pinang. The two-day party was a little bit different from what we usually carry out. There is a new program of pinang climbing, the term is widely familiarized by Indonesian people. In some area it is actually bamboo climbing. The program adopted from a common program held at the celebration of Indonesian independence Day. So the “panjat pinang” is quite new to be executed in the Children Day. Panjat pinang is a work of a team. The team work is to encourage the children in their social life. Within which the work of a team, as a team is more important then merely individual work. They have to make a strategy that works, they have to discuss the strategy to go to the top of bamboo and grab the presents up there. Intelligence to go up to the high point of bamboo is needed. An action is to be executed. And Up, up, they go. It is like to reach the goals through collective work and strength.

The program was held at the end of the party, on the yard of one’s house. It was the peak of the 6thCP. The audience and lookers on, spontaneously got crowded in a moment at the yard. Drivers of cars, as well as riders of motor cycles stop for awhile and slow down the speed to have a glance to the event just to laugh at the children who were barefooted, no shirt at the chest. The children, the climbers, climbed once and again, in a group. One time this group ,a and another time that group. Each group at its shift. The drivers, passengers and riders smiled and laughed at them. The children were cheerful, happy and enthusiastic notwithstanding their bodies were dirtied by oil. Oil that made the bamboo so slippery and difficult to climb. So animated. The children competed among the groups and try to win the game. Winning on behalf of the groups. The present stuff at the peak of the bamboo could possibly not too expensive but the spirit is awakemned. There is always room at the top, isn’t it. OK, congrat children, be happy, be smart and be winners, of course!!!

READING DOG-CART
Wednesday (Aug, 01) early in the morning three people entered the yard of Rumah Dunia. They were Wrenges Widyastuti, Arifil Amir, and Riyad. The three people are from NGO Masyarakat Nurani Dunia, Jakarta, pioneered by Imam Prasojo, a PhD, a sociologist of Universitas Indonesia UI. The NGO is one a the prominent Indonesian NGOs that concerns herself in victims of natural disasters and social affairs, and education issues is, for certain, also their vorte. Their attention. They would conduct feasibility study concerning RD. Their plan is – in the middle of August – to contribute a transportation vehicle which they call “Reading Dog-Cart”. We, the big family of Rumah Dunia could only pray. We can only hope that we can mange is amanah (task from the Lord). Amen! (Langlang Randhawa,is a 8th-semester student of IAIN Banten, Secretary to Rumah Dunia)

[221] TALK SHOW, DISKUSI, DAN TBM SE-INDONESIA

12 Juni 2007 - 18:06   (Diposting oleh: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.)

Oleh Langlang Randhawa

Baru pertama, oh aku rasakan/ Bertemu dengan seorang sastrawan/ Sastrawan dari Rumah Dunia...
Talk Show
Penggalan lagu qasidah yang sedikit diubah itu menggema dari siswa-siswi MTs Model Padarincang, menyambut keluarga Gola Gong dan para relawan pada Sabtu (26/5). Terasa sekali antusias mereka, menghadiri acara Talkswhow Dengan Penulis Rumah Dunia. Bahkan aula sekolah pun sudah disesaki para siswa-siswi. Tidak hanya dari MTs itu saja, dari sekolah luar pun ikut menjejali. Acara dimulai pukul 10.00 WIB. Setelah acara sambutan, Adkhilni MS, relawan Rumah Dunia, memegang kendali sebagai MC. Satu persatu relawan diperkenalkan: Aji Setiakarya, Muhzen Den, Shadik, dan saya sendiri, menyapa siswa-siswi dengan gaya masing-masing. Rimba Alangalang tidak bisa hadir, karena harus mendampingi Firman Venayaksa dalam rapat persiapan Ode Kampung II, dengan sejumlah rekan-rekan komunitas sastra dan budaya Banten di Perpusda. Pada kesempatan itu, pertanyaan seputar Rumah Dunia dan awal mula menjadi relawan pun bermunculan dari para siswa. Aji Setiakarya, yang juga alumni MTs tersebut memaparkan kalau hampir seluruh relawan di Rumah Dunia berawal dari kelas menulis.

Di sesi terakhir, giliran keluarga pengarang menaiki panggung: Gola Gong, Tias Tatanka, dan Bella. Abi dan Ody, adik Bela, hanya duduk-duduk menemani dan mempersiapkan beberapa buku untuk hadiah bagi siswa yang bertanya. Sementara si kecil Azka, asik dalam gendongan Teh Tulha. Suasana pun bertambah riuh. Di depan panggung, ada yang duduk di bawah meja sambil lesehan. Di tengah sudah sangat sesak. Di belakang hampir semua siswa berdiri. Sementara itu yang di luar hanya melongokan kepala atau sekedar mendengarkan dari pengeras suara saja. ”Jangan pernah takut untuk belajar menulis! Lihat saja kakak Alumni kalian, kak Endang Rukmana dan Kak Aji brekele. Mereka dari kampung. Tapi mereka bisa menulis. Pokoknya belajar dan terus belajar kapan dan di mana saja!” ujar Gola Gong.

Diskusi
Yah, belajar bisa saja dilakukan kapan dan di mana saja. Tidak hanya semata di sekolah, di mana siswa datang, duduk, dan dengar. Belajar tidaklah semata proses seorang guru mentransfer ilmu kepada murid. Namun tanpa disadari, banyak hal yang bisa dijadikan pembelajaran dalam keseharian kita. Orang-orang sekeliling, aneka peristiwa, keluh-kesah, serta kebiasaan-kebiasaan kita dan orang lain adalah sarana untuk kita memahami segala hal. Ada banyak medium-medium yang sering kita lewatkan. Kita lupa pada medium masyarakat, keluarga, medium pergaulan, dan medium lainnya yang mampu melejitkan potensi diri. Dalam hal ini, DR. Ahmad Mukhlis Yusuf menyebutnya dengan ”Sekolah Kehidupan”.

Bermula dari mailing list (Milis) Wong Banten, sebuah wadah diskusi masyarakat Banten lewat dunia maya, Minggu (27/5) Rumah Dunia menggelar diskusi Menuju Masyarakat Pembelajar:Diskusi Dua Doktor Muda Banten. Sebagai pembicara, DR. Ahmad Mukhlis Yusuf dan DR. Ibnu Hammad. Keduanya adalah Doktor yang tergolong muda di Banten dalam bidangnya masing-masing.

12 Juni 2007 - 18:06   (Diposting oleh: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.)
[221] TALK SHOW, DISKUSI, DAN TBM SE-INDONESIA
Oleh Langlang Randhawa

Baru pertama, oh aku rasakan/ Bertemu dengan seorang sastrawan/ Sastrawan dari Rumah Dunia...
Talk Show
Penggalan lagu qasidah yang sedikit diubah itu menggema dari siswa-siswi MTs Model Padarincang, menyambut keluarga Gola Gong dan para relawan pada Sabtu (26/5). Terasa sekali antusias mereka, menghadiri acara Talkswhow Dengan Penulis Rumah Dunia. Bahkan aula sekolah pun sudah disesaki para siswa-siswi. Tidak hanya dari MTs itu saja, dari sekolah luar pun ikut menjejali. Acara dimulai pukul 10.00 WIB. Setelah acara sambutan, Adkhilni MS, relawan Rumah Dunia, memegang kendali sebagai MC. Satu persatu relawan diperkenalkan: Aji Setiakarya, Muhzen Den, Shadik, dan saya sendiri, menyapa siswa-siswi dengan gaya masing-masing. Rimba Alangalang tidak bisa hadir, karena harus mendampingi Firman Venayaksa dalam rapat persiapan Ode Kampung II, dengan sejumlah rekan-rekan komunitas sastra dan budaya Banten di Perpusda. Pada kesempatan itu, pertanyaan seputar Rumah Dunia dan awal mula menjadi relawan pun bermunculan dari para siswa. Aji Setiakarya, yang juga alumni MTs tersebut memaparkan kalau hampir seluruh relawan di Rumah Dunia berawal dari kelas menulis.

Di sesi terakhir, giliran keluarga pengarang menaiki panggung: Gola Gong, Tias Tatanka, dan Bella. Abi dan Ody, adik Bela, hanya duduk-duduk menemani dan mempersiapkan beberapa buku untuk hadiah bagi siswa yang bertanya. Sementara si kecil Azka, asik dalam gendongan Teh Tulha. Suasana pun bertambah riuh. Di depan panggung, ada yang duduk di bawah meja sambil lesehan. Di tengah sudah sangat sesak. Di belakang hampir semua siswa berdiri. Sementara itu yang di luar hanya melongokan kepala atau sekedar mendengarkan dari pengeras suara saja. ”Jangan pernah takut untuk belajar menulis! Lihat saja kakak Alumni kalian, kak Endang Rukmana dan Kak Aji brekele. Mereka dari kampung. Tapi mereka bisa menulis. Pokoknya belajar dan terus belajar kapan dan di mana saja!” ujar Gola Gong.

Diskusi
Yah, belajar bisa saja dilakukan kapan dan di mana saja. Tidak hanya semata di sekolah, di mana siswa datang, duduk, dan dengar. Belajar tidaklah semata proses seorang guru mentransfer ilmu kepada murid. Namun tanpa disadari, banyak hal yang bisa dijadikan pembelajaran dalam keseharian kita. Orang-orang sekeliling, aneka peristiwa, keluh-kesah, serta kebiasaan-kebiasaan kita dan orang lain adalah sarana untuk kita memahami segala hal. Ada banyak medium-medium yang sering kita lewatkan. Kita lupa pada medium masyarakat, keluarga, medium pergaulan, dan medium lainnya yang mampu melejitkan potensi diri. Dalam hal ini, DR. Ahmad Mukhlis Yusuf menyebutnya dengan ”Sekolah Kehidupan”.

Bermula dari mailing list (Milis) Wong Banten, sebuah wadah diskusi masyarakat Banten lewat dunia maya, Minggu (27/5) Rumah Dunia menggelar diskusi Menuju Masyarakat Pembelajar:Diskusi Dua Doktor Muda Banten. Sebagai pembicara, DR. Ahmad Mukhlis Yusuf dan DR. Ibnu Hammad. Keduanya adalah Doktor yang tergolong muda di Banten dalam bidangnya masing-masing.

 

 

Copyright © 2019 Rumah Dunia. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU General Public License.