[Jurnal #191] DAAR EL-ISTIQOMAH, RELAWAN BANTEN STAR

18 September 2006 - 10:19   (Diposting oleh: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.)

Oleh Muhzen Den

Jum’at (8/9) sekitar pukul 10.00 pagi, seratus santri putri dari pondok pesantren Daar El-Istqomah menyerbu Rumah Dunia. Yah, siswi-siswi yang terbalut busana rapih itu datang untuk sekedar bertamasya sekaligus belajar jurnalistik. ”Tujuan kita datang ke Rumah Dunia selain ingin tahu juga ingin menimba ilmu,” ujar salah seorang santri.

Kedatangan santri putri itu disambut oleh para relawan. Selain relawan, Gola Gong yang sekarang sudah menjadi penasehat tampak hadir di tengah-tengah para santri. Setelah prosesi sambutan acara dilanjutkan dengan tanya jawab sekitar proses tulis-menulis. Gola Gong, memulainya dengan bercerita proses kreatifnya. Para santri sangat antusias sekali. Tidak lama kemudian Abdul Malik yang kebetulan Alumni Ponpes Dar-El Istiqomah muncul. Para relawan sedikit terperangah saat Abdul Malik berbahasa arab. Ternyata Malik masih fasih berbahasa arab.

Acara berhenti saat bedug Jum’at terdengar. Para santri ternyata tidak langsung pulang. Sambil menunggu waktu dzuhur tiba, mereka asyik membaca buku di perpustakaan. Sebagian yang lain mengunjungi warung jajan yang ada dibelakang Rumah Dunia. Kontan saja kunjungan yang mendadak itu membuat para pedagang gembira ”Alhamdulillah omsetnya naik,” kata Ibu Piah, penjual mie rebus. Kunjungan para santri juga berdampak pada Kedai Buku Jawara. Beberapa orang membeli buku. Rimba, sang manajer terlihat kerepotan melayani mereka.

RELAWAN BANTEN MEMBACA
Kebudayaan popular yang sedang merajalela saat ini perlu adanya perimbangan dari budaya serius, budaya kajian tematik dan lainnya. Itulah yang sedang diperankan oleh Rumah Dunia saat ini. Rumah Dunia sebagai learning center berupaya agar generasi muda tidak hanyut dalam pergaulan budaya yang timpang. Salah satu langkah yang kita ambil adalah mengawinkan antara kebudayaan popular dan budaya serius. Pada acara Banten Membaca, sebagai rangsangan untuk meningkatkan minat baca di Banten, akan ada partisipasi 20 finalis Banten Star, yang notabene dekat dengan budaya popular. Sepuluh cewek cantik dan sepuluh cowok ganteng akan menjadi etalase Banten Membaca. ”Ini tentu saja untuk mengubah image bahwa para artis tidak selamanya harus ngepop dan gelamor,” kata Feri Setiawan, marketing GMC. Finalis Banten Star itu rencananya akan berdemo di jalan utama mengajak masyarakat menyumbangkan buku. Mereka juga bakal hadir pada acara puncak wakaf buku yang berlangsung pada 22 September nanti. Untuk diketahui, bahwa Wakaf Buku adalah bagian dari Banten Membaca. Selain Wakaf Buku ada juga pameran buku, lomba menulis, lomba pidato, story telling dan pemutaran film tentang dunia membaca. Untuk Wakaf Buku, panitia akan berusaha memecahkan rekor MURI untuk kategori pengumpulan buku terbanyak dalam satu hari, yang sebelumnya diraih Universitas Bina Nusantara sebanyak 11.007. Kita berharap bisa mengumpulkan 15.000 eksemplar dalam satu hari. Rencananya buku yang terkumpul akan disalurkan kembali ke komunitas-komunitas dan taman baca di pojok-pojok Provinsi Banten. Untuk itu koordinasi dengan berbagai lembaga pendidikan yang ada di Banten, intens kita lakukan. Banten Membaca tentu saja tidak akan berhasil tanpa adanya kerjasama dengan berbagai komunitas dan elemen masyarakat yang ada di Banten. Terutama perguruan tinggi dan sekolah-sekolah.

DIKLAT ANYER
Sementara Minggu pagi (10/9) Gola Gong dan Piter Tamba, PJ Teater Rumah Dunia bertandang ke Anyer untuk memenuhi undangan SMAN 1 Anyer. OSIS SMAN I Anyer menyelenggarakan diklat jurnalistik, menulis drama dan tehnik berteater. Gola Gong yang memang penulis memberikan materi tentang jurnalistik dan menulis. Sedangkan Piter, mahasiswa IAIN yang pernah menjadi pentolan Gema Seni Budaya Islam Kampus (Gesbica) ini menyampaikan materi tentang seluk beluk yang ada dalam dunia teater. Peserta yang berjumlah seratusan itu terlihat bersemangat mendengar penjelasan Gola Gong dan Piter. Pas sesi teater, Piter yang sudah banyak memerankan tokoh di luar dirinya dan pandai ”bermuka dua”, mengajak para siswa berlatih olah vokal, olah tubuh dan olah sukma. ”Dalam dunia teater ketiganya disebut dengan istilah laku dalam dan laku luar. Kalau mau jadi pemain teater harus total,” kata Piter yang disambut riuh oleh peserta. SMAN I Anyer memang fenomenal. Untuk mendorong kreativitas siswa di bidang jurnalisatik dan teater pihak sekolah mengucurkan dana 5 juta rupiah untuk setahun. ”Karena ini untuk kemajuan siswa-siswi kami,” ujar salah seorang pembina kesiswaan yang hadir pada acara diklat tersebut. Selain itu juga, mereka mempunyai mata pelajaran khusus dalam bidang teater.

Di penghujung acara Piter mengakhirinya dengan satu kata. Buku. Siapa pun yang peduli pada Banten harap menyumbangkan bukunya. Sekali lagi buku! Hidup buku!

Muhzen_den, PJ. Perpustakaan Surosowan Rumah Dunia dan mahasiswa semester 1 Diksatrasia FKIP Untirta

 

[jurnal #169] DUNIA WARNA, PERPUSTAKAAN, BANTEN MEMBACA

28 Maret 2006 - 21:04   (Diposting oleh: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.)

Oleh Langlang Randhawa

Dalam rangka mengembangkan kreatifitas anak, Kamis (23/3) Pukul 14.00, Rumah Dunia menggelar lomba mewarnai bagi anak-anak. Sekitar 100 anak dari Ciloang, Kubil dan Kesuren menyerbu Rumah Dunia. Mereka sangat berantusias sekali mengikuti lomba. Setelah Tias Tatanka, ketua pelaksana Rumah Dunia dengan dibantu beberapa volunteer, mengumumkan pengkategorian lomba yang terdiri dari kategori SD, TK dan pra-TK, anak-anak berebut mengambil kursi. Membuat kelompoknya sendiri-sendiri. Mereka tidak sabar, berteriak-teriak ingin mendapatkan pinsil warna dan kertas gambar yang akan diwarnai

MENGGAMBAR
Tak lama, suasana yang tadinya gaduh berubah menjadi lengang. Anak-anak larut dalam keasikan memilih-milih warna. Di tengah suasana hening, datanglah sebuah mobil abu-abu. Dua orang keluar dari dalamnya. Seorang pria dengan sebuah kamera menggantung di lehernya dan perempuan. Aji Setiakarya menghampiri mereka. Ternyata mereka fotografer dan wartawan tbloid NOVA. Kedatangan mereka bertujuan meliput komunitas Rumah Dunia untuk dimasukan ke dalam salah satu rubrik di tabloid tersebut.

Setelah ngobrol-ngobrol, mereka menjeprat-jepretkan kameranya ke sekeliling areal Rumah Dunia. Anak-anak yang masih khusuk dalam dunia warnanya, nampak gembira ketika aktifitas mereka diabadikan. “Selain ajang pengembangan kreatifitas, lomba ini juga melatih anak agar lebih pandai memilih dan menggunakan warna yang cocok untuk sebuah objek gambar,” ujar Tias Tatanka, menjawab pertanyaan Reforter NOVA.

SEMINAR
Pagi itu, Sabtu (25/3) saya bangun lebih pagi dari biasanya. Mandi sebentar, lalu bergegas shalat. Tak lupa, saya membangunkan Muhzen Den. Hari itu saya dan Deden, begitu ia akrab disapa, diajak Gola Gong yang akan menjadi pembicara pada seminar “Membaca Cepat dan Seni Mengelola Perpustakaan”, yang diadakan kelompok Kompas Gramedia di TB Gramedia Matraman, Jakarta. Sementara, Ibnu Adam Avicena, Rimba Alangalang dan Aji Setiakarya tidak ikut. Mereka sudah mendapatkan jadwal masing-masing ke beberapa daerah: Bogor, Bandung, dan Sukabumi, masih dalam rangka yang sama, menemani Gola Gong sebagai pembicara seputar dunia perpustakaan.

“Siap?” tanya Gola Gong dengan pakaian rapi. Kami segera mengecek ulang apa-apa yang akan kami bawa untuk dipamerkan di stand yang disediakan Kompas Gramedia; Empat frame dokumentasi kegiatan Rumah Dunia; Lima kaos dan 20 gantungan kunci marchandise Rumah Dunia; beberapa buku puisi antologi proyek puisi Tiga Pertiga; Brosur Rumah Dunia dan liflet “Menggenggam Dunia”, buku terbaru Gola Gong.

Pukul 09.00 sampai di lokasi. Sebagian peserta yang terdiri dari berbagai kalangan: Ibu-ibu, mahasiwa dan remaja sudah menempati kursi yang telah tersedia. Saya dan Muhzen segera menata meja stand untuk membuka pemeran. Sementara Gola Gong langsung duduk dengan pembicara lainnya. Setelah waktu yang dijadwalkan tiba, maka acara segera dimulai.

“Perupustakaan bukan hanya sekedar tempat menyimpan buku dan manuskrip-manuskrip saja, melainkan sebuah tempat yang di dalamnya juga terdapat beraneka ragam kegiatan. Seperti teater, baca puisi, diskusi, nonton film, menggambar, dan berbagai kegiatan kreatif lainnya. Seperti halnya zaman Rosul SAW dahulu, aasjid-masjid menjadi pusat kegiatan masyarakat, selain dipenuhi dengan buku-buku, juga di dalamnya terdapat kegiatan-kagiatan diskusi dan kajian ilmiah,” papar Gola Gong, menjawab salah satu pertanyaan dari peserta seminar, seputar bagaimana cara membuat perpustakaan agar lebih hidup.

Pukul 12.00, seminar selesai. Acara dibreak sebentar. Makan siang dan shalat. Beberapa peserta menyerbu stand Rumah Dunia. Mereka berebut membeli marchandise gantungan kunci, buku pusi, dan kaos. Mereka juga memaksa Gola Gong membubuhkan tanda tangannya di buku puisi yang baru dibeli. “Tapi, ini bukan buku saya,” ujar Gola Gong, sambil menandatangani.

LOKAL
Setelah sukses menggelar “Ode Kampung” yang berskala nasional dan “Empat Pesta Rumah Dunia” di tingkat lokal, Rumah Dunia sedang menyiapkan acara “Banten Membaca:Temu Komunitas se-Banten”, insya Allah dilaksanakan selama tiga hari, darii 19 hingga 21 Mei 2006. Acaraya akan dibuka oleh salah satu keturunan terdekat Syekh Nawawi, Tanara, Banten. Ini merupakan sebuah penghargaan dari kami, bahwa Banten bukan hanya terkenal dengan jawara dan magic-nya, melainkan budaya membaca dan menulis yang telah dipraktekkan oleh Syekh Nawawi. Sudah saatnya kita berjuang menghancurkan imej jelek iut, bahwa Banten sebetulnya adalah wilayah yang hebat dengan sejarah menulis.

Selain itu, Rumah Dunia juga menyediakan sekitar 20 stand untuk komunitas taman baca dan seni dalam ajang open house ke masyarakat, memamerkan segala isi perut mereka. Juga akan ada beberapa pementasan, diskusi seputar dunia membaca yang rencananya akan menghadirkan DickDoang dan Yessy Gusman, artis yang konsen pada dunia membaca. Kami juga sedang memertimbangkan, apakah Habiburrahman el Shirazy, penulis “Ayat-ayat Cinta”, perlu didatangkan atau tidak pada acara ini. Kepinginnya sih iya, tapi dananya yang belum ada. Kalau tersedia dana, Habib pun siap membagikan proses kreatifnya! Atau ada pihak yang siap mendananai? (Langlang Randhawa, PJ Sekretariat Rumah Dunia, mahasiswa IAIN SMHB Serang)

***

 

[Jurnal #166] KOTAK MERAH HATI

07 Maret 2006 - 23:03   (Diposting oleh: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.)

Kotak Hati Merah Jambu dan Pesta Seni Oleh Langlang Randhawa

Jumat Sore (3/3) terjadi kesibukan yang luar biasa di Rumah Dunia. Hari itu merupakan puncak persiapan menjelang detik-detik ”Empat Pesta Rumah Dunia”. Di saat kami kelelahan datanglah serombongan tamu. Mereka disambut Nek Atisah dan Tias Tatanka. Tamu itu Ati Hartati Mulyawan, tinggal di kampung Kubil. Kata Nek, orang tua Ati teman seperjuangan di dunia pendidikan. Ati membawa dua keranjang kue tart dan satu parsel buah-buahan. Satu lagi kotak berwarna merah jambu, berbentuk hati. Ketika dibuka, masya Allah, didalamnya uang Rp 1.000.000,. Kami seolah diguyur air zam-zam! Kami mengucap syukur!

AIR BAH
Setelah Ati meninggalkan Rumah Dunia, sebuah pesan singkat masuk ke handphone Gola Gong. Pengirimnya Heri Erlangga. ”Saya sudah mentransfer uang Rp 500.000,- Semoga bermanfaat untuk Empat Pesta Rumah Dunia,” kata Ketua STIKOM Wangsa Jaya Serang itu. Heri juga akan memberi beasiswa bagi Muhzen Den, relawan Rumah Dunia asal Ciloang, untuk kuliah di STIKOM Wangsa Jaya.

Saat itu kami bersemangat sekali menyongsong “Empat Pesta Rumah Dunia”, 4 – 5 Maret lalu, karena banyak sekolah yang menghubungi kami, menyatakan kesediaan bergabung. Apalagi ketika Si Uzi memuat persiapan kami di Radar Yunior.

Sabtu (4/3) pun tiba. Set panggung belum selesai. Kami mengebut menyewa 50 kursi lagi di mesjid Ciloang. Bonang Purbaya, Rimba Alangalang, Peri Benggala, dan Wana Kelana menyelesaikan set panggung. Aji bergegas membeli balon dan kertas warna-warni. Kami semua saat itu belum mandi.

Pukul 08.00 para pengunjung bagai air bah berdatangan. Kami kelabakan juga, karena belum pada mandi. Mereka para guru SD dan murid-muridnya, yang akan mengikuti diskusi komik ilmiah ”Kuark”. Hafazhah, anggota DPRD Serang terselip mengantar anaknya. Sambil menunggu acara dimulai, mereka membeli buku di Kedai Buku Jawara. Gola Gong yang bersiap ke Bali, bersemangat menawarkan buku terbarunya; Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), yang kelak 25% dari royaltinya disumbangkan ke kas Rumah Dunia. Sekitar 33 buku ”Menggenggam Dunia” terjual. Mereka juga melihat-lihat 45 lukisan yang dipajang di ”galeri”. Anindi, siswi SD 6 Serang berteriak girang pada gurunya, “Bu guru, lihat itu lukisanku!”

Pukul 09.00 Peter Barzah didampingi Latifah Syarif, anggota kelas menulis angkatan ke-7 naik panggung. Anak-anak Ciloang menyanyikan mars Rumah Dunia, siswa-siswi TK Fajaria, Serang dengan drama anaknya, pementasan irama angklung TK Mutiara Bunda, Cilegon, dan pembacaan puisi siswa-siswa SDI Rhaudatul Janah, Cilegon. Yati dari Tomkins dan Evalube menyumbang satu unit komputer berikut printernya dan 5 pasang sepatu bari para relawan. Siwa-siswi SDI Rhaudatul Janah juga tidak mau ketinggalan, menyumbang 1 paket buku. Acara yang penuh tawa-canda berubah mengharu-biru mendengar sambutan Toto ST Radik pada penyerahan tali kasih Radar Banten dan Rumah Dunia kepada keluarga almarhum Rys Revolta, wartawan Radar Banten yang juga pendiri Rumah Dunia. Istri almarhum, Imas, dan putri sulugnya, Reyna, mnerima tali kasih berupa uang pendidikan. Sayang, Ibnu Adam Aviciena, Muhzen Den, dan Firman Venayaksa tidak berada di antara kami. Mereka juga disibukkan dengan world book day (hari buku sedunia) di Senayan library, Jakarta.

PESTA SENI

Pukul 10.00 Kepala Disbudpar Banten, Suyadi Wiraatmadja membuka acara, “Rumah Dunia adalah aset Banten yang harus dipertahankan keberadaannya.” Ujang Rapiudin (Dindik Banten), M. Yusuf (Kepala Disbudpar Serang), Dadi RsN (Kabid Kebudayaan Disbudpar Banten), dan Yaya Suhendar (Kasi Akuisisi Perpusda Banten) hadir memeriahkan acara.

Acara berlanjut dengan pesta seni. Berbagai pementasan kesenian ditampilkan; Nasyid SMP Nurul Fikri Cinangka, Anyer; Musik reliji SMP Al-Azhar Serang; dramatikalisasi puisi SMA KS, Cilegon; teatrikal SMAN 1 Serang; dan pentas teater Nol SMA1 Jawilan. Malam Mingguan, Rumah Dunia dan beberapa komunitas lainnya memutar film indie dan mendiskusikan proses kreativitasnya.

Minggu (5/3) adalah puncak kemeriahan Empat Pesta Rumah Dunia. Sekitar 250 siswa-siswi SMP Cikeusal dan SMPN 2 Serang memadati pangung utama Rumah Dunia. Sementara diluar demo lukis tingkat TK dan SD. Bagi lukisan terbaik ada kenang-kenangan berupa buku anak-anak dan mainan dari MC Donald. Menjelang sore, pesta seni menggemparkan suasana; musikalisasi puisi SMPI Rhaudatul Janah; drama SMPI Daarul Falah, Ciloang; grup lawak PASEMA MAN 2 Serang; dan aksi Teatrikal (CMBBS) Pandeglang.

Empat Pesta usai sudah. Kami banyak menerima sumbangan untuk acara ini; dari Ati Hartati Mulyawan, Bank Niaga Cilegon, dan komik Ilmiah Kuark Jakarta sebesar Rp. 1 jt. Tunas Cendekia Jakarta, Sudibyo, Firdaus Teras dan Heri Erlangga masing-masing Rp. 500 ribu. Ayu Rp. 250.000,- dan Prof. Yoyo Mulyana Rp. 200.000,- Bahkan Rektor Untirta mengatakan, ”Insya Allah, saya jadi donatur tetap.” Terkumpul dana sebesar Rp. 5.250.000,- Pengeluaran total sebesar Rp. 3.420.000,- Sisanya kami pergunakan untuk memperbaiki sarung jok kursi, menutup selokan, dan membeli rak buku. Terima kasih juga kami ucapkan epada Suhud Media promo, Imaji Multimedia, Favorite Entertainment, dan Sanggar Sastra Serang.

Kami betul-betul lelah, tapi kami gembira. Tapi kelelahan harus secepatnya kami singkirkan. Selasa malam (7/3) kami mengevaluasi ”Empat Pesta”. Juga agenda berikutnya di depan mata. Perhelatan ”3/3”; proyek 3 penyair Banten pada 18 Maret nanti, dan ”Banten Membaca: Temu Komunitas se-Banten”, Mei nanti. Eh, Jumat besok, para pelajar SMP IT Raudhatul Jannah, PCI, Cilegon akan menyerbu Rumah Dunia untuk belajar membuat majalah dinding. Ayo, serbu saja. Siapa takut! (Langlang Randhawa, mahasiswa IAIN SMHB Serang dan relawan Rumah Dunia).

[Jurnal #147] FIELD TRIP SD RAUDHATUL JANNAH, TK AL-KAUTSAR DAN TK BUNGA BANGSA

21 September 2005 - 21:50   (Diposting oleh: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.)

Radar Banten- Salam dari Rumah Dunia, edisi 29 September

Usai Gramedia Book Fair yang memeras tenaga dan pikiran, Rumah Dunia tidak berhenti berdetak. Pada Sabtu (17/7), jam 13.00 WIB Rumah Dunia kedatangan rombongan SD Raudhatul Jannah (SD IT RJ) Cilegon. Sekitar 60-an siswa kelas 3 memadati plaza Rumah Dunia. Rimb Alangalang dan Toto ST Radik memandu mereka. Ada yang baca puisi dan bertanya ini-itu tentang Rumah Dunia. Acara jadi seru ketika mereka meminta Toto membaca puisi. Ternyata guru mereka juga ikutan nimbrung baca puisi.

PENYAIR
Para pelajar SD IT RJ tak mau beranjak ketika jam menunjukkan angka 14.00. Saat itu Rumah Dunia dan Sanggar Sastra Serang menggelar acara penyair Banten di depan forum atau “Proyek 3/3’ (3 penyair setiap 3 bulan). Penyair Ibnu PS Megananda (Serang) dan Mahdi Duri (Tangerang) tampil membacakan beberapa puisinya. Anak-anak sempat berisik, tapi guru mereka menenangkan. Usai Mahdi membaca puisi, gerimis turun. Anak-anak bubar dan berlarian ke dalam mobil. Rumah Dunia yang tadinya hiruk-pikuk sekejap berubah senyap.

Diskusi pun beralih ke panggung. Chavcay Saefullah (Rangkasbitung) memaparkan makalahnya, mengupas puisi-puisi mereka. Sayang, Herfan FR (Untirta) sebagai pengupas lainnya urung hadir. Juga penyair Herdiwibawa (Lebak) berhalangan. Pada hari itu juga diluncurkan antoloji puisi 3 penyair; Dari Tari Senyap Surat Pemulung Sampai Rajahku”, yang diterbitkan Penerbit Rumah Dunia.

“Proyek 3/3” ini akan berlanjut pada Desember, menampillkan 3 penyair perempuan Banten. Toto ST Radik, pimpinan proyek mengatakan, “Sampai sekarang belum ketemu siapa para penyair perempuan Banten.”

Hari Minggu (18/9), kelas menulis Rumah Dunia kedatangan “dosen tamu” pengarang nasional, Kurnia Efendi. Sekitar 30-an peserta kelas menulis secara aktif menanyakan kiat-kiat kesuksesan Kurnia dalam mengarang, yang karya-karyanya tersebar di Kompas, Media, Koran Tempo, Gadis, HAI, dan Kawanku. Beberapa novelnya juga sudah diterbitkan penerbit Gramedia, Metafor, dan LPPH.

SKENARIO
Lepas hari Minggu, Senin sudah menanti. Giliran serombongan kanak-kanak mengunjungi RD dalam rangka field trip. Mereka murid-murid Kelompok Bermain dan Taman Kanak-kanak “Al Kautsar”, yang terletak di Jl KH Abdul Hadi, Kebon Jahe, Serang. Sekolah ini terhitung baru, berdiri tanggal 5 Mei 2005 lalu. Beragam kegiatan pendamping pun dilaksanakan di sana seperti kursus sempoa, Bahasa Inggris, drumband, dan jarlistung (belajar menulis dan berhitung).

Tema kunjungan mereka ke Rumah Dunia kali itu adalah “aku”. Dengan dipandu para volunteer Rumah Dunia; Wangsa Nestapa, Muhzen Den dan Roni, keduapuluh kanak-kanak yang didampingi kepala sekolah, ketua Yayasan Al Kautsar dan para guru itu bergembira. Wangsa meminta empat orang anak untuk maju ke depan dan berbicara tentang kesehariannya. Celoteh lucu mewakili kepolosan jiwa mereka. Yang menggelikan, salah seorang anak bercerita bahwa ia bangun pukul lima pagi, lalu sarapan pada pukul empat subuh. Tetapi ada juga yang membuat bangga, ketika seorang anak menjawab dengan cepat, kegiatannya sesaat setelah bangun pagi pada pukul lima adalah sholat!

Ada pula acara kuis, lima orang anak berhasil mendapatkan hadiah buku bergambar dari RD. Lucunya, ketika hendak pulang, seorang anak merajuk karena ia tidak mendapatkan buku! Kunjungan mereka hari itu ditutup dengan berdoa bersama dan menyanyikan mars Al Kautsar.

Masih belum selesai, Sahabat. Insya Allah, Sabtu (24/9) akan ada kunjungan dari TK Bunga Bangsa, yang akan membawa seluruh murid-murid kecilnya ke Rumah Dunia. Mereka juga ingin merasakan kegembiraan saat berada di Rumah Dunia; mendengarkan dongeng atau dapat hadiah buku. Itu juga kalau stok bukunya masih ada, lho…

Eit, satu lagi! Hari Minggu, 25 September, jam 13.00 WIB, ada workshop penulisan skenario TV bersama Dono Indarto, penulis skenario di beberapa TV swasta! Kalau pingin jadi penulis skenario TV, buruan gabung! Gratis, bo! Tapi di tengah kelelahan usai acra, kami selalu bahagia dan menyiapkan agenda berikutnya. Sabtu (24/9) selain ada kunjungan dari TK Bunga Bangsa, Gola Gong meluncur ke Jakarta, jadi pembicara di Kedutaan Besar Swiss. Penggagas acaranya Azimah Rahayu dari FLP Pusat. 'Proses kreatif denga tema hak anak, Mas!' kata Azimah.

Proses kreatif tentu harus ada sarananya. Yaitu komputer. Ini sangat penting bagi volunteer Rumah Dunia. Adalah Wien Muldian, Kepala Perpustakaan Dinas Pendidikan Jakarta, yang juga penasehat Rumah Dunia, mencarikan komputer. Jodoh tak lari kemana. Pro-XL menyumbangkan beberapa komputer ke Forum I

Copyright © 2019 Rumah Dunia. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU General Public License.