Membaca Senja

Sebuah Kado untuk Pipiet Senja

Di usiamu yang hampir setengah abad juga, ternyata Dia masih mengirimkan berbagai cobaan. Nyata benar Dia sangat sayang padamu. Dia tahu kokohnya imanmu.

Sebelum aku mengenalmu, aku sering mengeluh; atas kelemahan tubuhku, atas kerapuhan ragaku. Sungguh aku kurang bersyukur dengan apa yang dianugerahkanNya kepadaku. Ketika penyakit menggerogoti tubuh, aku berpikir mati, dan matilah aku saat itu juga. Sampai suatu hari aku menemukan buku. Buku yang menceritakan kisah hidupmu. Dan mataku terbuka. Semangatku menyala. Membaca kisahmu, aku beristigfar. Aku lebih beruntung dibandingkan takdirmu.

Read more ...

Agenda 2009 At Rumah Dunia

By Jang Rudun

During December 2009, at the World House filled activities in collaboration with outside parties.

Read more ...

Komunitas Literasi Desak Pemerintah Perhatikan Literasi Lokal

09 Desember 2008 - 02:54   (Diposting oleh: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.)

oleh Sunan diambil dari www.halohalo.co.id

Komunitas literasi yang hadir dalam acara Ode Kampung#3 yang bertema Dukung Gerakan Komunitas Literasi Lokal di Rumah Dunia, Serang, mendesak pemerintah agar lebih memerhatikan gerakan literasi lokal.

“Selama ini pemerintah pusat dan pemerintah daerah kurang memerhatikan gerakan literasi lokal,” demikian kata Gola Gong, pengelola Rumah Dunia di Ciloang, Serang, Minggu (7/12).

Pertemuan tahunan yang dihadiri oleh komunitas literasi seperti 1001 Buku, Forum Indonesia Membaca, Nurani Dunia, KKS Melati, Forum Lingkar Pena dan sejumlah taman baca lokal dari setiap daerah ini mendesak pemerintah untuk lebih memerhatikan gerakan literasi lokal dengan segera menyusun regulasi yang lebih teknis terkait Undang Undang No. 43 tahun 2007 tentang perpustakaan.

“Undang-undang yang ada saat ini masih terlalu umum, belum mengatur hal-hal teknis seperti pengelolaan perpustakaan, dan hal-hal teknis lainnya. Kita menuntut adanya regulasi teknis dari setiap ayat yang tercantum dalam undang-undang tersebut,” kata Wien Muldian, aktivis literasi yang mewakili Forum Indonesia Membaca.

Di tatanan pemerintah daerah, gabungan komunitas literasi ini meminta pemerintah daerah untuk lebih memerhatikan gerakan literasi lokal dengan membangun perpustakaan daerah yang lebih representatif, meningkatkan pelayanan yang optimal serta menyediakan pengelola perpustakaan yang lebih profesional.

“Perpustakaan daerah yang ada sampai sejauh ini lebih mirip gudang,” ungkap Gola Gong miris.

Selain sarana perpustakaan yang belum dikelola dengan baik, komunitas literasi menilai akses masyarakat untuk datang ke perpustakaan milik lembaga pemerintah maupun lembaga pendidikan sangat terbatas. Karenanya, komunitas literasi berharap lembaga pendidikan dan lembaga pemerintah yang memiliki perpustakaan membolehkan perpustakaannya di akses masyarakat luas.

Dalam ajang ini, komunitas literasi juga mengajak berbagai elemen masyarakat seperti pengembang kompleks perumahan, pengelola pusat perbelanjaan, tempat ibadah dan berbagai sarana umum lainnya untuk turut serta dalam mengembangkan literasi lokal dengan menyediakan ruang baca bagi publik.

Tak hanya sebagai penghimbau, komunitas literasi juga menyediakan diri sebagai “kompor” untuk lebih mendorong masyarakat aktif membaca dengan mendorong tumbuhnya taman baca lokal di setiap daerah serta menjalin kemitraan antara perpustakaan daerah dan perpustakaan lokal.

Sedangkan kontribusi penulis, penerbit, serta perusahaan yang memiliki alokasi dana CSR (Corporate Sosial Responsibility) diharapkan untuk turut mengembangkan dunia literasi dengan memberikan sumbangsih berupa ‘dukungan moril’, buku-buku dan alokasi dana yang lebih memadai.

“Penulis dapat berkontribusi dengan menggelar launching buku yang lebih ‘bersahabat’ di taman baca lokal ketimbang di hotel-hotel,” kata Firman Venayaksa, aktivis Rumah Dunia yang didapuk sebagai presiden Ode Kampung#3.

Ode Kampung merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh Rumah Dunia yang berskala nasional. Kegiatan yang berlangsung selama beberapa hari di Rumah Dunia, Serang ini merupakan ajang pertemuan diskusi dan ekspresi seni antar komunitas maupun individu pecinta dan penikmat sastra. Ode Kampung dilaksanakan sejak tahun 2006 dengan mengusung tema Sastrawan di Tengah Persoalan Kampungnya, Ode Kampung#2 kembali hadir pada 2007 dengan tema Temu Komunitas Sastra Se-Nusantara. Dalam setiap penyelenggaraannya Ode Kampung selalu mengeluarkan sebuah rekomendasi yang merupakan himbauan ataupun saran, baik kepada pemerintah maupun terhadap sistem yang sudah berjalan. (tr)

REUNI RUMAH DUNIA DAN PELUNCURAN RUMAH TUKI

07 Agustus 2008 - 12:49   (Diposting oleh: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.)

Oleh Aji Setiakarya

REUNI RUMAH DUNIA DAN PELUNCURAN RUMAH TUKI Oleh Aji Setiakarya Rencana reuni bagi para alumni kelas menulis Rumah Dunia (RD) akan terealisasi juga. Setelah hampir dua kali diundur, akhirnya kami menetapkan 9-10 Agustus 2008 sebagai waktu yang tepat. Sejauh ini kelas RD sudah membuka kelas menulis sebanyak 11 kali. Masing-masing angkatan diberikan pelatihan 3-5 bulan. Terdiri dari pelatihan jurnalistik, sastra. Pada 1- 7 angkatan diberikan pelatihan skenario film. Namun pada angkatan delapan, mereka pelatihan skenario film diberikan kepada mereka yang sudah lulus dalam pelatihan jurnalistik dan sastra.

Reuni kelas menulis RD ini dikelola oleh kelas menulis angkatan sebelas. Saya sendiri hanya memfasilitasi saja. Gading Tirta ketua pelaksana yang juga sekretaris angkatan ke 11 mengungkapkan reuni ini sebagai ajang untuk silaturrahmi bagi para lulusan kelas menulis Rumah Dunia. Sejauh ini para alumni kelas menulis RD sudah berkiprah di beberapa media massa baik cetak maupun elektronik. Di Koran Radar Banten misalnya ada Qizink La Aziva (angkatan pertama) dan Duha angkatan ke lima dan Zee Ahmadi (angkatan menulis sembila). Sementara Di Kaibon ada Langlang Rhandawa, Vie, RG Kedung Kaban dan Muhzen Den, Rimba Alang-alang. Untuk Kaibon selain mereka banyak lagi anak kelas menulis yang menjadi kontributor. Majalah dua mingguan ini bisa dimanfaatkan untuk simulasi anak-anak KM RD. Selain di dunia cetak alumni KM juga ada yang berkiprah di dunia broadcast. Desty (KM IV) misalnya menjadi announcer di Dimensi FM sementara saya sendiri (KM III) aktif di stasiun televisi lokal Banten TV. Banyak lagi yang menjadi freelance pada beberapa media. Selain itu ada yang memang sudah menjadi penulis terkenal sebutlah Endang Rukmana yang sudah menerbitkan lima buku. Tapi jangan salah, diantara alumni tidak semuanya menjadi penulis. Beberapa hanya menjadi aktivis literasi dan menjadi guru yang aktif mengikuti dunia sastra dan jurnalistik bahkan hanya menjadi ibu rumahtangga saja.

Nah, dibalik keberagaman kiprah mereka itulah relawan RD mengundang mereka bercandaria mengenang masa lalunya. Pasti mereka memiliki kenangan yang bermacam-macam tentang RD. Lucu, sebal dan lain-lain. Ide ini sebenarnya muncul dari kawan-kawan alumni juga yang kami respon. Reuni ini bermaksud untuk mendekatkan tali silaturrahmi yang lebih akrab lagi. “Dan semoga menjadi penyemangat untuk terus berkiprah menulis,” ungkap Firman Venayaksa yang kini menjabat sebagai presiden RD.

LAUNCHING RUMAH TUKI
Dan yang menariknya lagi adalah reuni RD ini akan dimeriahkan dengan kegiatan peluncuran komunitas baca ditempat acara yang kami pakai. Adalah Rumah Tuki, bakal nama taman bacaan yang disediakan oleh anak-anak di daerah Jembangan Anyer Serang ini. Sebetulnya TBM ini sudah aktif semenjak tiga bulan yang lalu. Oleh pemiliknya, Iyut Suharta, warga Jakarta yang peduli dengan daerah sekitar, TBM belum.

Kami memberikan masukan untuk memberi namanya kepada TBM itu agar memiliki semangat. Muncullah nama RUMAH TUKI. RUMAH TUKI berarti rumah untuk anak kuya. Sang pemilik sepertinya mencintai tuki. Menurut salah satu pengelolanya, Susanti nama Rumah Tuki diambil karena kesukaan keluarganya memelihara dan membudidayakan Tuki. Peluncuran akan berlangsung Minggu (10/8) pagi pukul 09.00. Beragam kegiatan akan mengisi peluncuran ini. Diantaranya adalah pentas dari anak-anak Jembangan yang sudah belajar angklung. Menurut pencetusnya, Iyut Suharta, perpustakaan ini disediakan agar anak-anak setempat bisa mengenal dunia luar. Seperti halnya semangat kami di Rumah Dunia. Rumah Tuki ini ingin menjadi bagian untuk mencerdaskan Anyer khususnya dan Banten umumnya. Bagi anda penggiat literasi, pejabat atau hanya sekedar penikmat aksi anak-anak dan peduli terhadap dunia literasi datanglah bersama kami dalam acara ini. Terimakasih.
(aji setiakarya, relawan rumah kini bekerja di bantentv)  

Copyright © 2019 Rumah Dunia. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU General Public License.