News

Imajinasi itu Bernama Puisi

Oleh Hilman Sutedja

Sebuah peradaban hadir karena adanya imajinasi. Begitu pula dengan sebuah peperangan dan penghancuran dalam sebuah kehidupan, selalu diawali dengan imajinasi. Betapa kuatnya pengaruh imajinasi sehingga apa saja bisa terjadi, termasuk dalam sebuah puisi. Puisi lahir karena seorang pembuatnya memiliki imajinasi-imajinasi liar yang menurutnya cocok untuk dijadikan tulisan. Seperti yang disampaikan Einstein, imajinasi adalah dunia tak terbatas sehingga seseorang termotivasi untuk melakukannya di dunia nyata.  Kurang lebih seperti itulah yang saya tangkap ketika Ahda Imran, seorang penyair kawakan Indonesia asal Payakumbuh menyampaikan materi pelatihan puisi di Rumah Dunia, Serang, (Sabtu18/1).




Disampaikan Melalui Bahasa Simbol


Di dalam sebuah puisi, imajinasi disampaikan melaui bahasa simbol atau bahasa konotasi yang sangat berbeda sekali dengan bahasa deskripsi atau bahasa sehari-hari. Misalnya ,aku menanam padi di negeri awan, juga seperti dalam puisi “aku”nya Chairil Anwar yang berbunyi 'sedang dengan cermin aku enggan berbagi,' merupakan bahasa-bahasa simbolik yang memiliki makna yang dalam dan tersembunyi. Puisi jika disampaikan melalui bahasa sehari-hari, kata Ahda, apa bedanya dengan tulisan berita,skripsi dan tulisan biasa lainnya. Dalam hal ini puisi memiliki keunikan tersendiri.


Terkadang bahasa puisi sering membuat para pembaca rumit untuk menerjemahkannya, tetapi patut diakui bahwa puisi memiliki keindahan yang luar biasa, “seperti bahasa dalamAl-Quran, kita tidak mengerti apa artinya, tetapi kita menikati setiap lantunan ayat-ayatnya. Begitu pula dengan puisi, kita tidak tahu apa maksud dari sipenulisnya, tetapi kita kagum dan senang ketika membacanya,” kata Ahda saat acara berlangsung. Sebagai pembaca puisi, kita tidak dituntut untuk memahami puisi itu, tetapi para pembaca diajak untuk merasakan dan meresapi bait-bait puisi sehingga hati melunak dan paham apa yang harus dilakukannya ketika kembali ke dunia nyata yang penuh dengan ingar bingar kefanaan.


Bahasa simbol dalam puisi, tidak sembarangan dipakai ketika hendak menuliskannya, bahasa simbol juga harus memiliki tujuan dan menunjuk pada sifat kata itu. seperti kata merpati yang melambangkan kesetiaan dan  kesucian.  “Atau kalau penulis itu menuliskan kata ular, maka berarti penulis memberi makna bahwa ular itu menandakan kelicikan, jijik, berbahaya dan lain sebagainya. Jadi puisi yang baik pula adalah puisi yang banyak memiliki bahasa simbol,” tambah Ahda.


Sarat Pesan Moral


Serumit apapun puisi, seberat apapun ketika pembaca hendak menerjemahkannya puisi tentu memiliki pesan moral yang agung. Penulis puisi pasti memiliki tujuan kenapa dia menuliskan puisinya. Sebab di dalam karya sastra, termasuk  puisi, bukan isapan jempol belaka. Kalau dalamfotografi, seorang fotografer menyampaikan pesan moralnya melalui foto, maka para penyair menyapaikan dakwahnya melalui puisi.


Begitulah manfaat puisi, selalu memberikan pesan kebaikan kepada para pembacanya. Apalagi jika seseroang sudah matang dalam mengolah bahasa puisinya, maka para pembaca akan merinding ketika membacanya. Oleh karenanya, puisi sangat diperlukan untuk menyikapi Indonesia yang sedang sakit karena ulah para perusak bangsa. Termasuk memerangi korupsi yang sudah kronis melanda negara Indonesia, termasuk di Provinsi Banten. “Seberat apapun kita melawan korupsi, dan mungkin puisi tidak serta merta mengubah perilaku korupsi, tetapi setidaknya kita sudah berusaha melakukan penyadaran melalui puisi ketimbang kita hanya berdiam diri di depan tv,” kata Ahda di akhir acara.



Copyright © 2017 Rumah Dunia. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU General Public License.