News

Tidur Dalam Mimpi : Membangunkan Mimpi Yang Tertidur

Jangan melihat seseorang, hanya sekedar dari penampilan dan fisik belaka. Mungkin itu ungkapan tepat, untuk menyikapi acara Nyeyore ala Rumah Dunia sore lalu (Minggu, 21 Juli 2013) di teater terbuka Rumah Dunia. Acara ini mungkin tidak jauh berbeda dari acara-acara yang pernah di adakan oleh Rumah Dunia, yaitu Bedah Buku Puisi. Namun bukan sembarang Bedah Buku, ternyata buku puisi “Tidur Dalam Mimpi”yang dibedah adalah karya dari seorang Efdie Bachrudin yang berprofesi sebagai sopir angkot. Atau akrab di panggil Kang Udin Angkot. Lantas, timbul pertanyaan dan ketakjuban tersendiri. Bagaimana bisa, seorang supir angkot Serang-Pandeglang yang setiap harinya hanya berkutat di jalan raya dapat menghasilkan karya sastra yang sakral, yaitu puisi.


Bedah buku puisi ini dikupas langsung oleh pakar puisi, penyair Toto ST Radik yang cukup berpengalaman dalam menggeluti dunia puisi. Beliau—Toto ST Toto St Radik menyatakan, bahwa puisi-puisi yang dibuat oleh Kang Udin Angkot ini merupakan curahan dan perasaan terhadap sebuah peristiwa dan pengalaman. Tidak menggunakan diksi-diksi yang rumit maupun bermetafora ria, namun justru menggamblangkan sebuah kondisi dengan diksi yang nyata dan sebenarnya. Dan kebanyakan puisi yang dibuat, merupakan pengalaman empiriknya di jalanan sebagai seorang supir angkot. Mulai dari menggambarkan suasana, menerangkan peristiwa, bentuk protes, bahkan menjelaskan objektivitas seseorang dari sudut pandang seorang supir. Inilah yang kemudian menarik perhatian banyak orang. Dan lebih uniknya lagi, Kang Udin Angkot memiliki kebiasaan yang “berbahaya” yaitu membaca buku. Mengapa disebut “berbahaya”, karena kebiasaan ini sangat jarang terjadi di kalangan sopir angkot. Bahkan mungkin satu-satunya saat ini. Ketika sopir lain dipusingkan dengan Rit, penumpang dan setoran, justru Kang Udin menyibukkan diri di sela-sela rehat menyupirnya dengan membaca dan menulis sebuah puisi. Inilah yang disebut kebiasaan berbahaya itu. Dalam arti lain, berbahaya karena seorang yang tidak banyak dipandang nyatanya memiliki wawasan yang lebih luas dan lebih terbuka terhadap sebuah permasalahan global yang terjadi.

Sebagai seorang akademisi, kita semestinya malu dengan sosok Kang Udin Angkot. Dengan umurnya yang tidak muda lagi, justru mampu menciptakan sebuah karya dan tetap terus belajar serta membaca. Sedangkan kebanyakan akedemisi, yang memang semestinya bergumul dengan buku, malah sibuk dengan dunia kemalasan dan predikat non produktif-nya. Sekali lagi, hidup bukan persoalan kepantasan. Seberapa pantas dan seberapa hebat untuk terus berkarya. Justru yang mesti dihidupkan dari hidup adalah keberanian untuk memulai. Kang Udin, meskipun sudah cukup umur, sudah berprofesi dan berkeluarga, namun ia berani untuk belajar dan memulai pembelajarannya. Bersama komunitas Literasi Rumah Dunia, Kang Udin telah membuktikan, bahwa siapapun dan apapun diri kita tetap pantas untuk berkarya. Asal mau memulai dan berusaha.

Tidur Dalam Mimpi yang dibuat Kang Udin, tak ubahnya membangunkan mimpi-mimpinya yang sempat tertidur. (Asep Kurniawan)

 

Copyright © 2017 Rumah Dunia. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU General Public License.