News

MENYANDANG BLUE RANSEL KE KRAGILAN

Oleh: Poetry Ann

 

 

Blue Ransel adalah salah satu dari sembilan buku yang diterbitkan pada event Rumah Budaya Nusantara yang diselenggarakan Rumah Dunia pada 8-10 November 2013 lalu.

Buku yang memuat 26 cerpen bertema perjalanan yang ditulis oleh 26 penulis muda Banten ini memang sudah jauh hari direncanakan untuk Roadshow ke sekolah-sekolah yang ada di seputaran Banten. Dan Roadshow pertama diadakan di SMKN 1 Kragilan yang baru saja diselenggarakan pada Sabtu, 11 Januari 2014 lalu.

SMKN 1 Kragilan dipilih karena dua penulis yang cerpennya tergabung dalam buku Blue Ransel, yaitu Isela dan Yasmin Annur, merupakan guru dari sekolah tersebut.

 

Awalnya

saya pikir, acara yang dimulai dari pukul 10.00-12.00 ini akan sepi-sepi saja. Ternyata saya salah. Saya mendapati antusiasme yang tak disangka-sangka dari siswa SMKN 1 Kragilan dan beberapa sekolah yang juga diundang, di antaranya, SMKN 1 Ciruas dan SMPN 1 Kragilan.

 

Ada tiga pembedah yang dihadirkan dalam acara tersebut, yaitu, Ali Sobri (wartawan majalah Hai!), Mujiyanti (guru B. Indonesia SMKN 1 Kragilan) dan Dra. Rini Mutiara Ningsih (guru B. Indonesia SMKN 1 Kragilan), ditambah Isela, perwakilan dari penulis Blue Ransel.

Masing-masing pembedah memiliki panilaiannya sendiri terhadap kumcer Blue Ransel. Ali Sobri mengaku, dirinya menemukan kejutan dalam beberapa cerpen yang tergabung di kumcer Blue Ransel. Hanya saja, belum ada karakter tokoh yang menurutnya benar-benar berkesan. Karakter tokoh yang membekas dalam ingatannya meski cerpen tersebut sudah selesai dibaca. Ali pun memberi masukan dan tips tentang bagaimana caranya supaya karakter tokoh yang kita bangun kuat. Salah satunya ya, tentu dengan cara observasi.

Sementara Mujiyanti, guru B. Indonesia yang cerpennya pernah dimuat di Anita Cemerlang ini tidak terlalu banyak menyinggung tentang jalinan cerita dalam ke-26 cerpen yang tergabung dalam Blue Ransel. Ia hanya sedikit menyinggung soal penggunaan bahasa dalam cerpen. Dalam cerpen popular menurutnya, bisa lebih bebas menggunakan bahasa. Tidak harus menggunakan bahasa baku, bisa juga menggunakan bahasa prokem yang disesuaikan dengan target pembaca, atau yang lebih dikenal dengan bahasa gaul oleh remaja sekarang. Ia menemukan bahasa-bahasa prokem itu dalam beberapa cerpen yang tergabung dalam kumcer tersebut. Dan itu sah-sah saja.

Selain itu, Mujiyanti juga sedikit mengomentari tampilan covernya. “Ketika kita berniat membeli sebuah buku di toko buku, di mana biasanya buku-buku yang dijual masih tersegel dan terbungkus kemasan plastik, biasanya yang dinilai pertama kali oleh calon pembaca adalah tampilan covernya. Setelah covernya dianggap menarik, barulah calon pembaca akan menilai judulnya, kemudian sinopsis yang ada di belakang covernya. Dan cover Blue Ransel ini, menurut saya sudah cukup menarik,” jelas Mujiyanti sembari menunjukkan buku Blue Ransel yang ada di tangannya pada peserta yang menghadiri acara Launching dan Bedah Buku Blue Ransel ini.

Lain lagi dengan pendapat Dra. Rini Mutiara Ningsih. Meski belum sempat membaca seluruh cerpen yang ada dalam kumcer tersebut, dari beberapa yang sudah dibacanya, ia mengaku kalau Blue Ransel telah menginspirasi dirinya untuk mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah ia kunjungi. Terutama tempat-tempat yang diketahuinya dari beberapa cerpen yang sempat dibacanya. Ia juga sedikit menjelaskan mengenai unsur intrinsik dan ekstrinsik pada para peserta, di mana ia menyebutkan, bahwa pemilihan judul menjadi faktor terpenting dalam keseluruhan cerita. Menurutnya, judul bisa menjadi magnet bagi si pembaca. Judul bisa menjadi pengaruh utama apakah si pembaca akan lanjut membaca cerita tersebut atau tidak.

Sementara Isela, selaku perwakilan dari penulis Blue Ransel, mengaku senang karena akhirnya bisa ikut menyebarkan virus literasi pada murid-muridnya. Meski dirinya bukan guru B. Indonesia, Isela tetap optimis bisa menularkan kecintaannya menulis kepada para muridnya itu.

Keberhasilannya menyebar virus menulis bisa dilihat dengan adanya seorang guru SMPN 1 Kragilan yang ketika itu hadir dan menyatakan ketertarikannya mengikuti jejak dua guru SMKN 1 Kragilan, yaitu Isela dan Yasmin Annur, untuk juga bisa menulis seperti keduanya.

Suasana acara Launching dan Bedah Buku Blue Ransel semakin seru ketika Hilal Ahmad (penulis, redaktur Expresi Radar Banten) selaku moderator memberi kesempatan kepada beberapa peserta untuk mengajukan pertanyaan, yang kemudian diberikan hadiah kumcer Blue Ransel dan kumcer Wafak Mbah Koyod bagi tiga penanya yang beruntung.

Setelahnya, acara dilanjut dengan sesi pengumuman dan pemberian trofi beserta hadiah paket buku terbitan Gong Publishing, juga beasiswa, bagi pemenang lomba menulis cerpen yang memang sengaja diadakan oleh panitia pelaksana acara Launching dan Bedah Buku Blue Ransel sebulan sebelum acara digelar.

Keseruan bertambah ketika sesi hiburan yang menampilkan pembacaan puisi, musikalisasi puisi dan menyanyi dari perwakilan penulis Blue Ransel, beberapa siswa SMKN 1 Kragilan dan beberapa siswa dari sekolah yang diundang dimulai. Sesi hiburan ini sekaligus juga menandai berakhirnya acara.

 

 


*Penulis adalah alumni Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan 19 sekaligus salah satu penulis Blue Ransel.

Foto: dokumentasi Yori Tanaka (alumni Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan 19 sekaligus salah satu penulis Blue Ransel)

Copyright © 2017 Rumah Dunia. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU General Public License.