News

MIMPI KAMI DAN TANAH ITU

 

Oleh : Tias Tatanka

 

 

Ini cerita sudah lama sekali. Ketika Aa menceritakna rencnanya kepada saya dan para relawan tentang perluasan areal Rumah Dunia, saya seperti mengalami deja vu. Ini mirip ketika dia merencanakan pembebasan tanah seluas 1000 M2 di halaman belakang rumah. Kala itu (2000), dia masih segar bugar dan sangat bersemangat. Sekarang juga masih bersemangat, hanya saja sudah tidak bugar. Kalau dulu begitu mudah dia mencari uang di Jakarta, sekarang untuk bepergian ke luar kota pun harus dibantu terapiest.

 

Baiklah, saya akan bercerita masa itu. Begini ceritanya:

Saya sudah bilang ke dia, suami saya yang seniman itu, betapa saya telah nyaman punya sebuah rumah berlantai dua dengan nama “Rumah Dunia” di tembok teras depan rumah. Walaupun dengan halaman depan yang sempit, tapi halaman belakang yang cukup plus sebuah mushola tempat kami mensyukuri nikmat-Nya, membuat saya seolah sedang berada di jalan setapak menuju mata air kehidupan. Rumah itu tidak begitu luas, tapi nyaman. Saya jelaskan padanya, rasanya tak perlu lagi mencari tempat jemuran baju, karena di atas, di teras terbuka, dua pembantu bisa leluasa menjemurnya. Malah seperti panggung, atau sebuah balkon. Lalu sudah ada tangga ulir untuk lalu-lintas jemuran, tak perlu lagi tetes air cucian membasahi tangga kayu di dalam rumah. Segalanya beres. Semuanya enak. Nyaman. Anak-anak masih bisa bermain bebas. Lari-lari dalam rumah, membuat rumah berantakan dengan mainan di mana-mana. Saya masih merasa nyaman. Mungkin saya memang tidak punya mimpi, ambisi dan keinginan muluk-muluk. Cuma satu mungkin: ingin bisa bermain organ. Dan itu sudah agak terlambat. Jari-jari tua saya tak selentur anak-anak. Daya pikir yang tak seelastis kanak-kanak. Jadilah saya belajar enam lagu pendek selama sebulan penuh.

Berbeda dengan suami saya, dia punya mimpi aneh: membeli tanah di belakang rumah. Ia melihat tanah –saya menyebutnya kebon ilalang- di belakang rumah kami, sangat menjanjikan. Ia mimpi bikin villa dan pusat belajar bagi anak-anak dan remaja di situ. Kalau bosan di rumah yang sekarang, dia akan tidur seharian di villa. Cari ilham sambil membagikan ilmu-ilmu jurnalistik dan sastranya kepada orang. Kalau perlu kita pindah ke sana. Saya tahu ini berkaitan dengan tulisan “Rumah Dunia” di dinding teras depan rumah.

Saya jadi pendengar mimpi-mimpinya. Suami saya memang sering menceritakan mimpi-mimpinya, yang bagi saya seperti sudah menjadi obsesi, yaitu membuat sebuah gelanggang remaja atau versi sekarang sering disebut sebagai learning centre. Ide learning centre berawal dari konsep gelanggang remaja. Di Bandung ada gelanggang remaja di Jl. Merdeka. Di Jakarta gelanggang remaja Bulungan sangat populer. Para pelajar dan mahasiswa bisa menyalurkan bakat seni dan olahraga di tempat ini.

atau pusat belajar bagi masyarakat Serang khususnya dan Banten umumnya. Kecintaanya pada Serang dan Banten sudah jadi semacam katarsis, mengerak. Itu tidak aneh. Saya sudah membaca kecintaannya pada Banten sejak lama, sejak mebaca novel “Balada Si Roy”.

Setiap hari saya menyerap zat-zat di dalam tanah Banten, sehingga tubuh saya kuat berisi. Setiap hari saya menghirup udara Banten, sehingga rongga dada saya penuh terisi. Apakah dengan segala kenikmatan yang saya peroleh dari Bumi Banten ini, lantas saya tidak berterima kasih kepadanya?” begitulah orasi yang sering saya dengar dari mulut suami. Kecintaannya pada Banten kadang melebihi orang yang lahir di Banten. Suami saya tidak lahir di Banten. Dia lahir di Purwakarta. “Numpang lahir,” kata dia. Tapi, tidak penting baginya lahir dimana atau berdomisili dimana. Yang paling penting baginya, “Bumi dipijak, langit dijunjung!”

Dia lebih memperuntukkan obsesinya bagi para remaja. Saya menyuruhnya juga agar memperhatikan nasib anak-anak juga. Suami saya setuju. Ia setengah berjanji untuk membuat sebuah tempat untuk berkreasi bagi anak-anak dan remaja itu.

Hanya dalam hati saya sempat bertanya, uangnya dari mana? Semua itu kan perlu biaya! Sementara ada beberapa tanggungan yang harus dilunasi. Tapi, saya selalu mendoakan niat baiknya. Pesan saya: jangan kecewa kalau tak bisa mewujudkannya.

***

 

Waktu berlalu. Bulan berganti. Kami masih sama: saya latihan musik, anak-anak ikut kelompok bermain, dan suami bekerja –sambil memupuk mimpinya. Saya hanya tahu yang sebatas dia ungkapkan. Tapi tak tahu yang direncanakan Tuhan dengan mimpi suami. Bahkan ketika dia pulang kerja, mengabarkan uang yang bakal didapatnya, saya masih tak percaya. Saya cubit lengan suamiku. Ia tersenyum. Saya tak mimpi. Ia yang bermimpi, tapi kali ini bukan mimpi.

Lewat beberapa orang yang dikenalnya baik, suami gerilya mendapatkan tanah. Incarannya seratus meter. Dia makin bersemangat saat ayahnya tertimpa musibah, lumpuh. Otomatis mimpinya mmebuat villa berubah. Dia bermaksud membuatkan rumah untuk ayahnya - mertua saya yang sudah tua dan sakit, yang memang tinggal bersama kami. Suami saya sudah wanti-wanti sejak awal, bahwa dia sangat ingin merawat ayah dan ibunya saat mereka sudah tua.

“Jangan biarkan mereka kesepian di hari tuanya,” kata suami saya. “Mereka harus selalu bahagia bersama anak dan cucunya.” Bahkan, kata suami saya, jika orang tua saya mau tinggal di Serang, akan diajak untuk tinggal bersama kami juga. Malah akan dia buatkan rumah. Bagi suami saya, tinggal dalam sebidang tanah yang luas bersama sebuah keluarga besar; orang tua dan mertua, sangatlah menyenangkan. “Saya akan terus bersemangat bekerja untuk mencari rezeki! Hidup betul-betul ada tujuan!” katanya bergelora.

Saya mendukung saja. Sambil berdoa, yang terbaik terjadilah. Yang diridlai Allah, terjadilah. Tak ada mantra, cuma ada rasa cinta dan sayang, pada suami dan mimpinya.

Harga tanah yang tiba-tiba menggelembung sempat membuatnya apatis. Saya mengingatkannya: untuk apa mengejar sesuatu yang bukan rezeki kita. Suami setuju. Tapi ia masih bermimpi: tanah itu. Untung dia seia sekata di depan saya. Soal mimpi tak jadi dikejarnya.

Tapi tiba-tiba datang kabar: harga sesuai. Suami saya girang. Semangat bekerja keras mendapat uang untuk membeli tanah. Saya sempat khawatir kesehatannya menurun. Tapi ia memang besi. Seperti kekerasan mimpinya. Karena bekerja dengan gembira, tak terlihat lelah. Saya yang menjaga asupan makannya. Tentu, juga dengan doa. Saya mersa saat itu, suami saya sedan membangun jalan setapak yang lain, yang akan membawa kehidupan kami ke sebuah tempat yang mungkin bukan lagi sekedar mata air. Ah, hanya Allah yang tahu nanti.

Rezeki memang sudah dibagi. Tanah didapat, uang telah dibayarkan. Perantara dapat bagian. Sisa uang yang semula akan digunakan untuk mengurus akta tanah akhirnya diberikan kepada dua orang perantara itu. Kata suami, hitung-hitung menolong mereka, juga membersihkan harta kita dari haram. Siapa tahu, kita pernah lupa mengeluarkan zakat. Ya, ada benarnya juga. Dua orang itu mulai merenovasi rumahnya. Syukurlah…

Tapi mimpi suami juga mengalami renovasi: ia ingin beli empat ratus meter lagi. Saya bangun. Ini bukan hanya mimpi. Saya agak khawatir, kusarankan berpikir lebih jauh, tidak baik mengejar-ngejar mimpi. Suami saya bilang, ia dapat rezeki banyak, biar tidak hilang, investasi ke tanah. Meski, uang belum di tangan. Saya berpikir sebentar, akhirnya ikut mendukung mimpinya.

Dengan perhitungan dan rencana matang, suami berhasil membujuk saya: ikut bermimpi. Jadilah tanah belakang rumah mengisi mimpi kami sehari-hari. Untung pemilik tanah mendukung keinginan kami, kendati harga tanah tak turun-turun. Kami tak peduli. Saya jadi ikut bermimpi lebih rumit lagi: punya taman bermain buat dua anak kami. Kalau bisa malah ingin buka taman kanak-kanak gratis, agar anak-anak di lingkungan Ciloang, tempat kami tinggal, bisa terangkat kualitas pendidikannya. Ada yanfg membuat saya trenyuh dengan anak-anak di Ciloang. Mereka tidak pernah mengenyam bangku taman kanak-kanak, karena biaya masuknya tidak bisa dijangkau oleh orangtua mereka. Suami tersenyum mendengar mimpi saya. Ia senang saya ikut bermimpi. Berarti ia punya teman. Saya tak lagi tertawa mendengar gurauannya. Tapi, terbahak-bahak. Ternyata, bermimpi itu nikmat.

Tanah itu terbeli sudah. Suami menjebol dinding belakang rumah, memasang pintu besi untuk akses ke belakang –kebon , begitu anak lelaki kami menyebut tanah itu. Alang-alang, gundukan sampah, rumpun tanaman yang dicurigai jadi sarang ular, batu-batu besar, mulai dibersihkan. Kami jadi terbiasa dengan bau sampah, tanah pupuk, tai kucing, kadal, bahkan ular. Kedua anak kami pun punya mainan baru: mengorek-orek tanah, mencari cacing, melihat ular yang dibakar. Sekilas memang sadis. Tapi kata orang kampung, itulah cara membersihkan jejak ular. Entahlah.

Saya bersyukur orang-orang sekitar kami baik-baik. Apalagi orang kampung, kalau kami minta tolong, tak segan-segan mereka mengulurkan tangan. Inilah hasil didikan suami: hargailah mereka, mereka tentu akan menghargai kita.

Tanah itu bersih sudah. Siap untuk dipoles. Dari pintu besi, suami ingin ada jalan menurun. Juga jalan sekeliling tanah. Saya jadi bisa main luncur-luncuran di jalan menurun itu. Suami cuma tertawa melihat saya mewujudkan mimpi: main ice skating. Karena tidak ada es atau lilin, jadilah papan skateboard keponakan saya sasarannya. Anak lelaki kami berteriak kegirangan. Sementara anak perempuan kami lebih suka memetik bunga yang ditanam ayah dan neneknya. Ya, suami saya suka berkebun, saya suka bermusik. Atau cuma mendengarkan musik, sambil baca buku. Sekilas memang tidak nyambung, tapi toh tetap bisa berjalan seiring. Suami sibuk dengan tanaman, saya temani dengan lagu-lagu dari keyboard. Kalau tidak, saya ajak dia ngobrol. Saya tidak begitu tertarik dengan tanaman. Meskipun ketika memilih tanaman yang akan ditanam, suami selalu minta persetujuan saya. Dan saya memilih dari mimpi: ingin punya pohon mangga, jambu, pisang, rambutan. Itu semua sedang kami pupuk, kami tanam.

Saya jadi teringat sajak “Rumah Kita” yang saya tulis. Suami saya akan mewujudkan apa-apa yang saya tulis di dalam sajak iut. Pohon lengkeng dan mangga, langsung ditanamnya. Jalan setapak yang mengitari kebun juga dibuatnya, agar kami bisa menikmati udara segar di kebun.

Dan kami juga masih punya mimpi, kali ini sama: membangun perpustakaan di tanah belakang rumah. Tampaknya obsesi suami saya, membuat learning centre atau pusat belajar bagi masyarakat semakin dimudahkan oleh Allah. Suami saya semakin tidak sabar ingin mewujudkannya. Kata dia, “Buku-buku yang tersimpan di rak dan di dus-dus mesti dikeluarkan. Mesti disimpan di perpustakaan itu. Kelak kita namai ‘Rumah Dunia’, agar orang-orang bisa merasa menjelajahi dunia lewat buku!”

Suami saya berbicara lagi tentang buku-bukunya yang ribuan itu. “Jika buku-buku itu bisa bicara, mereka pasti menuntut kita, bahwa daripada bulukan kena debu di sini, mendingan orang-orang diberikan kesempatan untuk ikut membaca. Bukankah buku-buku iut juga sama dengan harta? Kenapa buku-buku itu tidak kita keluarkan juga zakatnya? Bukankah juga semua orang punya hak untuk memperolah pendidikan? Bukankah buku adalah sarana pendidikan?”

Saya lagi-lagi setuju. Tidak ada yang salah dengan perkataannya yang berapi-api itu. Buku bagi kami adalah jalan setapak yang bisa membawa kami ke dunia baru. Dunia penuh petualangan. Dunia yang menggairahkan. Maka tak heran jika saya melihat suami sering membersihkan rak dan buku-buku dari debu. Saya juga senang merawat buku. Itu adalah bentuk kecintaan kami pada buku.

Ya, kecintaan kami pada buku memang menggila. Tak ada hari tanpa bacaan. Tak ada hari tanpa dialog tentang buku dan seputarnya. Bagi kami, buku seperti perhiasan yang harus dijaga benar-benar. Pada bukulah kami menemukan harta tak ternilai! Pada bukulah, kelak, kami akan menyusuri jalan setapak, yang membawa kami ke mata air.

Saya sendiri tidak mengoleksi perhiasan emas berlian, karena lebih tertarik pada buku. Seperti perempuan pada umumnya, suka sih suka, tapi tidak maniak asesoris. Tapi maniak buku. Kami memang edan, tapi positif. Untuk mendukung perpustakaan itu, kami memang harus terus bermimpi. Itu yang menjaga spirit kami tetap hidup.

Dan di atas semua mimpi itu, cuma Allah Yang Maha Tahu, seperti apa keinginan kami, betapa berwarna dan indahnya mimpi-mimpi kami, apa yang sudah-sedang-akan kami lakukan. Biarlah orang lain tak tahu mimpi-mimpi itu. Biar mereka melihat apa yang sudah terwujud.

Subhanallah. Segalanya begitu mudah ya Allah. Hanya Engkau Yang Maha Kuasa, tanpa campur-tanganMu, mimpi kami tak akan bisa terwujud. Dan sekarang tiba-tiba saja hal itu muncul lagi. Dia tiba-tiba saja seolah memperoleh kekuatan masa mudanya. Jika sudah begitu, sebelum keinginannya tercapai, tidak ada kata menyerah. Dia bilang, “Kita jangan terbebani. Ini usaha. Jika uang tidak terkumpul, kembalikan saja. Atau beli lahan yang lebih murah, ahak jauh dari Rumah Dunia, di kampong tetangga. Pokoknya, kita gembira saja. Biarkan semuanya mengalir seperti yang dikehendaki Allah. Percayalah, Allah ada di belakan kita…”

***

 

 

*) Tanah itu kini ditumbuhi tawa anak-anak masa depan Banten


Sebelumnya pernah dimuat di www.rumahdunia.net pada 25 april 2009

 

 

 

Copyright © 2017 Rumah Dunia. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU General Public License.