News

JENDELA RARA KE RUMAH TANPA JENDELA

Oleh Nita Nurhayati*

 

Rumah Tanpa Jendela merupakan film besutan Aditya Gumay, yang dikembangkan dari cerpen Asma Nadia berjudul Jendela Rara. Jendela Rara adalah cerpen kedua Asma Nadia yang difilmkan oleh Aditya Gumay. Cerpen ini termasuk salah satu judul cerpen dalam kumpulan cerpen Emak Ingin Naik Haji. Membaca cerpen Jendela Rara seperti memotret sebuah kehidupan pinggiran Jakarta dengan berbagai keterbatasan. Rara adalah tokoh utama yang dikisahkan begitu memimpikan sebuah rumah berjendela. Rara tinggal di perkampungan kumuh dengan komunitas keluarga yang miskin. Dengan mimpinya ini Rara dapat memengaruhi teman-temannya sehingga mereka juga menginginkan rumah berjendela. Inti cerita ini dikembangkan oleh Aditya Gumay dengan pengembangan yang tetap mempertahankan esensi cerpen.

 

Adapatasi dari Prosa Fiksi ke Film

Prosa fiksi adalah kisahan atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeranan, latar, serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita (Aminuddin, 1995: 66). Dari pengertian tersebut karya fiksi lebih dapat dibedakan menjadi roman, novel, novelet, maupun cerpen. Proses adaptasi dari prosa fiksi ke film sudah banyak dilakukan, seperti pada novel Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi karya Andrea Hirata yang diadaptasi oleh Mira Lesmana dan Riri Reza ke dalam film. Kemudian Perempuan Berkalung Sorban yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo diadaptasi dari novel Abidah El-Khaelaqy. Selain itu novel-novel karya Habiburrahman yang sudah banyak difilmkan, mulai dari Ayat-Ayat Cinta, Dwilogi Ketika Cinta Bertasbih, dan Dalam Mihram Cinta. Selain novel, bentuk karya fiksi lain yaitu cerpen juga diangkat ke layar lebar seperti film Tentang Dia yang diangkat dari cerpen Melly Goeslaw, dan Mereka Bilang Saya Monyet yang diangkat dari cerpen Djenar Maesa Ayu.

Damono (2009: 130) mengemukakan bahwa jika diteliti dengan cermat akan tampak perbedaan antara karya sastra dan film yang didasarkan atasnya, yang menyangkut sejumlah unsur strukturnya. Tokoh, latar, alur, dialog, dan lain-lain harus diubah sedemikian rupa sehingga sesuai dengan keperluan jenis kesenian lain. Berdasarkan pengertian tersebut, maka yang terjadi dalam cerpen Jendela Rara adalah perubahan judul dari Jendela Rara menjadi Rumah Tanpa Jendela ketika difilmkan. Ketika menikmati kedua karya ini, yakni cerpen dan film maka akan ditemukan persamaan dan perbedaannya yang akan dipaparkan antara lain sebagai berikut.

 

Persamaan dan Perbedaan antara Cerpen Jendela Rara dengan Rumah Tanpa Jendela

Ketika membaca judulnya tentu ada kata yang sama yaitu jendela. Cerpen Jendela Rara dan film Rumah Tanpa Jendela mengisahkan tentang kehidupan seorang anak perempuan yang memimpikan adanya jendela di rumahnya. Ini menjadi mustahil karena rumah yang berlatar di perkampungan kumuh ini tidak mungkin berjendela sebab “Rumah-rumah saling menempel dinding yang satu menjadi dinding yang lain” (Nadia, 2009: 98). Hal ini yang dikatakan Pak RT ketika anak-anak yang lain merengek minta dibuatkan jendela oleh orang tuanya. Bagian cerpen ini dikembangkan lagi di film dalam adegan ketika Bapaknya Rara ditegur para tetangganya yang mengeluhkan tentang jendela Rara, perbedaannya yaitu jika di cerpen yang ditegur adalah Emak sedangkan di film yang ditegur adalah Bapak. Begitu pula yang menegur, jika di cerpen yang menegur adalah Pak RT sedangkan di film yang menegur adalah Ibu-ibu yang anaknya menginginkan jendela seperti Rara.

Tokoh Rara dalam cerpen dan film sama-sama digambarkan sebagai anak yang pandai mengarang, menggambar, dan suka menghayal. Di film diperlihatkan karangan Rara berjudul Rumah Tanpa Jendela sedangkan di cerpen, Rara sering menghayal bayangan rumah tinggal yang diimpikannya: Sebuah rumah imut dengan dinding kehijauan berlumut, Jendela-jendela besar yang menjaring matahari dan halaman mungil berumpun melati (Nadia, 2009: 89)

Persamaan berikutnya yaitu terletak pada tokoh utama. Dalam cerpen Jendela Rara, tokoh utamanya bernama Rara dan di film Rumah Tanpa Jendela yang menjadi tokoh utamanya juga bernama Rara. Karena cerpen Jendela Rara hanya terdiri dari 12 lembar sedangkan di film memiliki durasi 100 menit maka Aldo dihadirkan sebagai tokoh utama seperti Rara. Hal ini menjadi wajar karena butuh pengembangan sehingga tidak hanya Aldo yang menjadi tokoh tambahan tetapi keluarga Aldo juga terlibat dalam film Rumah Tanpa Jendela.

Dapat disaksikan ketika awal penceritaan film Rumah Tanpa Jendela, menjemput nenek di bandara merupakan adegan pembuka film. Dari sinilah dikenalkan tokoh utama yaitu Aldo kemudian Nenek sebagai tokoh yang melindungi Aldo atau bisa disebut sebagai tokoh pendukung penting. Dengan kehadiran Aldo seolah sutradara ingin menghadirkan dua kehidupan yang berbanding terbalik yaitu segala kemewahan yang dimiliki Aldo dan keterbatasan hidup yang dialami Rara. Tokoh Protagonis dan Antagonis juga hadir dalam film Rumah Tanpa Jendela. Tokoh protagonis menurut Nurgiantoro (2000: 190) adalah tokoh yang kita kagumi – yang salah satu jenisnya secara popular disebut hero – tokoh yang merupakan pengejawantahan norma-norma, nilai-nilai, yang ideal bagi kita. Adapun tokoh antagonis barangkali dapat disebut beroposisi dengan tokoh protagonis, secara langsung ataupun tak langsung, bersifat fisik ataupun batin.

Jika dianalisis, maka Aldo merupakan tokoh protagonis karena dapat disebut sebagai hero – penolong dalam kesulitan Rara. Aldo menunjukkan nilai-nilai moral yang patut dicontoh oleh anak-anak seusianya bahkan Aldo dapat mengajak keluarganya untuk menyumbangkan buku di sekolah singgah tempat Bu Alya mengajar Rara dan teman-temannya. Tokoh guru Rara di film bernama Bu Alya sedangkan di cerpen bernama Kak Romelah, begitu pula dengan nama sekolahnya. Jika di cerpen berlabel Sekolah Singgah sedangkan di film, Rara sekolah di Madrasah Ibtidaiyah pada sore hari. Adapun Andini merupakan tokoh antagonis karena sifatnya beroposisi dengan Aldo, Andini gengsi memiliki adik tidak normal seperti Aldo. Tokoh-tokoh ini bergerak seiring dengan pengembangan cerita.

Pertemuan awal Rara dan Aldo terjadi di depan painting studio tempat Aldo belajar melukis. Saat itu hujan turun deras sekali, Rara yang bekerja sebagai ojeg payung menawarkan jasanya pada Aldo. Dengan lugunya, Aldo meminta Rara memayunginya sampai ke mobil yang telah menjemputnya. Karena sifatnya yang murah hati, Aldo memberikan selembar uang sepuluh ribu pada Rara. Melihat ini, temannya Rara yang iri membenturkan kepala Rara ke mobil. Sopir Aldo melihat kejadian ini sehingga Rara dibawa keluarga Aldo ke Rumah Sakit. Dari sinilah dimulainya keakraban antara Rara dan Aldo.

Persahabatan Aldo dan Rara berlanjut ketika Aldo, Nenek, dan Pak Tarjo mengantarkan Rara ke rumahnya. Aldo tertarik melihat papan bertuliskan Rumah Singgah yang ternyata sekolah Rara. Aldo kemudian menyumbangkan buku-bukunya ditambah buku kedua Kakaknya – Kak Adam dan Kak Andini, dan meminta tambahan uang Rp 300.000 kepada orang tuanya untuk membeli buku. Melihat kedermawanan Aldo, Pak Syahri – Bapaknya Aldo sangat mendukung. Berbeda dengan Bu Ratna – Ibunya Aldo yang merasa gengsi karena disindir teman-teman arisannya sebab rumahnya sudah menjadi rumah singgah. Bahkan suatu ketika, Bu Ratna kehilangan cincin dan menuduh teman-teman Rara yang telah mencurinya. Kejadian ini membuat Aldo kabur dari rumah.

Aldo merasa bahwa orang-orang di rumahnya tidak lagi menyayanginya terutama Kak Andini yang marah besar ketika di hari ulang tahunnya, Aldo, Nenek, Rara, dan teman-temannya memberikan kejutan dengan tampil bersama bandn Kak Adam. Andini terpengaruh dengan ucapan temannya yang menyarankan untuk tidak mengakui Aldo sebagai adiknya karena aneh. Sikap Aldo memang cenderung seperti anak yang autis bahkan idiot yang berbicara tidak lancar, bersikap tidak normal, namun lincah dan selalu ceria. Andini takut ketahuan Rio – gebetannya kalau memiliki adik semacam itu. Padahal dalam penceritaan selanjutnya, ternyata Rio memiliki saudara kembar bernama Roy yang idiot dan telah meninggal setahun lalu karena sakit panas. Menurut Rio, ketika melihat Aldo seolah ia juga melihat saudara kembarnya itu. Sebenarnya Rio sangat kehilangan Roy dan hal ini diceritakan pada Andini sehingga membuatnya sadar harus bersyukur memiliki adik yang memiliki keterbelakangan mental dan fisik.

Andini merasa kehilangan Aldo. Ia sadar akan sikapnya yang kurang baik pada Aldo. Di sisi lain, Aldo sangat senang bersama Rara, ia merasa menjadi sangat mandiri karena bisa makan dari hasil ojeg payungnya bersama Rara. Aldo sangat bahagia memiliki sahabat seperti Rara yang dapat menerimanya apa adanya.

Persamaan tokoh yang hadir terdapat pada tokoh utama, yaitu Rara dan Aldo, sedangkan tokoh lain cenderung sama dengan peran yang agak berbeda. Semisal Si Mbok yang terdapat di Film Rumah Tanpa Jendela, di cerpen Jendela Rara ada tokoh Emak namun ini adalah Ibu kandung Rara. Jika melihat foto yang terdapat dalam adegan setelah rumah terbakar sepertinya Ibu kandung Rara diperankan oleh Asma Nadia – penulis cerpen Jendela Rara. Karena di foto tersebut Rara berdampingan dengan Asma Nadia meski tak terlalu tampak jelas. Perbedaan ini ditegaskan dengan kehadiran Yuni Shara yang berperan sebagai Asih. Dalam cerpen, Asih merupakan Kakak Perempuan Rara namun di film, Asih dipanggil Bude oleh Rara atau dalam Bahasa Indonesia Bude adalah Kakak Ibu atau Bapak kita. Bude Asih memanggil Si Mbok sebagai Mbok yaitu Ibu. Dengan demikian, tampaklah pergeseran peran yang terjadi dalam film Rumah Tanpa Jendela.Adapun persamaan tokoh berikutnya yaitu adanya bapak, dalam cerpen ada tokoh Bapak yang bekerja sebagai pemulung besi-besi tua. Di dalam film tokoh bapak diperankan oleh Rafi Ahmad yang tidak memulung tetapi menjadi tukang sol sepatu dan penjual ikan hias. Bapak di film sebagai seseorang yang berusaha untuk mengerti keinginan anaknya. Bahkan bapak rela menukarkan semua dagangannya dengan dua pasang jendela yang sebelah kacanya pecah. Di dalam cerpen yang begitu memperhatikan keinginan Rara adalah Bang Jun – Kakaknya Rara yang berusia dua puluh tahun yang tidak dihadirkan di film Rumah Tanpa Jendela.

Di dalam cerpen, klimaksnya yaitu ketika Rara dan keluarganya berdebat tentang jendela dan gara-gara Rara semua anak meminta kepada orang tuanya untuk dibuatkan jendela, sedangkan di film Rumah Tanpa Jendela, klimaksnya terjadi ketika rumah Rara terbakar dan ini menjadi dramatisasi dalam film yang cukup menyedihkan karena di sisi lain Rara sedang bersenang-senang menghadiri pesta ulang tahun Kak Andini.

Kehadiran keluarga Aldo menyebabkan banyaknya perbedaan, mulai dari tokoh, alur, latar, dan unsur penceritaan lainnya. Pengembangan dari cerpen yang diadaptasi ke dalam film memang berbeda dibandingkan dengan novel. Jika novel yang diadaptasi ke dalam film, maka sutradara akan mempersempit penceritaan karena terbatas durasi sedangkan dalam cerpen semua cerita yang singkat itu diserap dan dikembangkan menjadi sebuah film. Adaptasi ini berusaha tetap mempertahankan esensi dua karya dengan ide cerita yang sama. Adapun tema yang diangkat dalam cerpen Jendela Rara dan Rumah tanpa Jendela yaitu kemanusiaan yang memfokuskan pada masalah sosial dan diwujudkan dalam persahabatan antara Rara dan Aldo dengan status sosial yang berbeda.

Film Rumah Tanpa Jendela dikemas dengan bentuk drama musikal yang sesuai untuk tontonan keluarga. Dari awal hingga akhir dihadirkan subtitle berbahasa Inggris yang cukup menganggu kenikmatan menonton karena penonton disibukkan untuk membaca bahasa Inggrisnya, sedangkan tidak semua penonton memahami. Walaupun tujuannya baik untuk memperlancar berbahasa Inggris. Tapi, alangkah terganggunya orang Indonesia yang kerepotan membaca bahasa Inggris, sebaiknya tidak usah ada subtittle karena selayaknya orang Indonesia mencintai bahasanya sendiri, kecuali memang untuk dikonsumsi orang luar negeri.

Dengan demikian, menonton film dan membaca karya sastra merupakan dua hal yang berbeda dan sungguh mengasyikkan. Yang penting adalah bagaimana dapat menemukan makna dari kedua karya tersebut. Sesungguhnya karya sastra dan film hadir tidak hanya sebagai hiburan melainkan juga dapat dijadikan sebagai pembelajaran. Sebab sastra dan film lahir dari manusia dan merespons tentang kehidupan manusia sehingga karya sastra yang difilmkan – dengan kualitas yang sama akan sangat bermanfaat bagi penikmatnya.(*)

 

 

Serang, 01 Maret 2011

(*Nita Nurhayati, Peneliti Sastra Bandingan dan aktif di Rumah Dunia Sumber Rujukan: Aminuddin. 1995. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algesindo.

Damono, Sapardi Djoko. 2009. Sastra Bandingan. Ciputat: Editum.

Nadia, Asma. 2009. Emak Ingin Naik Haji. Depok: AsmaNadia Publishing House.

Nurgiantoro, Burhan. 2000. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: UGM.


Sebelumnya pernah dimuat di www.rumahdunia.net pada 21 Maret 2011

Copyright © 2018 Rumah Dunia. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU General Public License.